Sabtu, 10 Oktober 2015

Cerpen Laila Nur Auliani yang Berjudul Pertemuan Dua Sahabat di Amerika Serikat


Pertemuan Dua Sahabat di Amerika Serikat
Karya : Laila Nur Auliani 
Sumber Gambar : https://merrylah.files.wordpress.com/2008/11/us-ma-cambridge-harvard-university-red-brick-building-sunshine-grass-lawn-students-1-ajhd.jpg


Di Monumen Lincoln, Amerika Serikat sangatlah ramai, banyak masyarakat disana yang menghabiskan malamnya untuk menonton kembang api, aku ikut bergabung di tengah keramaian tersebut. Disana memanglah ramai dan penuh kebahagiaan, namun aku merasa ada yang kurang dengan suasana ini, aku mengenang kebahagiaan maupun kebersamaan dengan keluargaku di Indonesia, tapi terpaksa aku harus meninggalkan mereka, karena mencari ilmu di dunia adalah cita-citaku sejak kecil. Namun aku merasa bahwa bukan hanya rindu pada keluargaku, namun ada seseorang yang mengganjal hatiku, aku merindukannya namu aku tidak tau pasti siapa yang sangat aku rindukan itu. Setelah menonton kembang api, aku kembali ke Hotel Commonwealth Court . Sesampainya di Hotel tersebut, aku membuka cendela, dan duduk di sofa sambil mengerjakan tugas. Ketika belajar aku sempat melihat langit, saat ini langit dipenuhi oleh bintang-bintang, aku melihat 2 bintang yang bersinar sangat terang daripada bintang bintang lainnya. Bintang-bintang tersebut membuatku mengingat masa laluku, pancaran sinar kedua bintang tersebut mengingatkan pada sahabatku Suci.
“ Kedua bintang itu sangatlah indah seperti kisah persahabatanku dengan Suci yang telah berlangsung selama 12 tahun, bintang itu telah menjawab pertanyaanku, ternyata seseorang yang mengganjal dihatiku adalah sahabatku yang selalu ada dalam suka maupun duka dan menghiasi hari-hariku, namun saat ini aku telah berpisah dengannya, berat rasanya perberpisahan ini,” batinku dalam hati.
Aku mengingat semua masa laluku dengan sahabatku Suci, kami tandai awal perhabatan kita di sebuah pohon yang besar, di batang pohon itu kami tulis, “ Laila dan Suci, bersahabat tuk selamanya, 17 Januari 2009.” Aku mengingat bagaimana kebersamaan kita, kami saling bercerita, tertawa, bersenang-senang, bermain, berjalan-jalan, membuat kerajinan, dan mengelilingi Indonesia, untuk memperdalam budaya dan mencari tahu lebih dalam kekayaan maupun keindahan alam tanah kelahiran kita, Indonesia.
“Oh Iya...aku masih menyimpan foto-foto persahabatanku dengan Suci ketika berkeliling Indonesia, namun aku lupa dimana aku menyimpan foto itu?” Kataku, sambil mencari album foto di lemari.
Ketika aku sedang mencari album foto persahabatanku itu, tiba-tiba temanku datang dan mengetuk pintu.
“Tok...tok...tok...” ada seseorang yang mengetuk pintu.
“Iya sebentar, siapa, ada perlu apa?” tanyaku.
“Laila, ini saya Shirley, saya ingin memintamu untuk membantu saya belajar, saya mengalami kesulitan,” jawab temanku Shirley.
“Silahkan masuk Shirley, pintu tidak dikunci,” tawarku.
“Baiklah Laila,” jawabnya dengan membuka pintu.
“Kamu sedang apa Laila?” tanya Shirley.
“Aha...akhirnya ketemu juga, ini Shirley yang sedang aku cari, ini adalah fotoku bersama sahabatku Suci, ketika kami sedang mengelilingi Indonesia,” jawabku dengan senang.
“Apa! fotomu ketika mengelilingi Indonesia, coba saya ingin melihatnya, bagaimana negara kelahiranmu itu, aku sangat penasaran,” Shirley terkejut dan ingin melihat fotoku.
“Ini kalau kamu memang benar-benar penasaran dengan Indonesia,” kataku sambil memberikan foto-fotoku.
“Jadi ini Indonesia, indah sekali, bahkan pemandangannya sangat menakjubkan, di mana saja ini terutama kelima air terjun ini, coba katakan tempatmu berfoto dengan sahabatmu itu?” tanya Shirley sambil menunjuk fotoku dan Suci di bawah Air Terjun.
“Jangan berlebihan, karena selain Indonesia masih ada negara lain yang lebih indah, walaupun dalam diriku aku hanya mencintai Indonesia, 5 foto air terjun ini adalah contoh air tenjun yang indah di Indonesia yang pertama adalah air terjun 2 warna dan yang kedua adalah air terjun mursala di Sumatra Utara, yang ketiga adalah air terjun Sendang Gile di Lombok, yang keempat adalah air terjun Benang Kelambu di NTB, yang kelima ini adalah air terjun Sipiso-piso, sedangkan foto-fotoku lainnya itu adalah pemandangan-pemandangan yang tersebar di Indonesia,” kataku sambil menunjuk foto.
“Jadi kamu suka mengelilingi Indonesia Laila? Aku ingin wisata di Indonesia, Laila kapan-kapan maukah kamu mengajakku berkeliling Indonesia?” tanya Shirley.
“Baiklah kapan-kapan aku akan mengajakmu berkeliling di Indonesia, ohh iya...bukannya kamu tadi ingin kubantu dalam belajar Shirley?” tanyaku.
“Maaf...maaf...aku jadi lupa akan hal itu, tapi sepertinya kamu sedang sedih Laila?” tanya Shirley kepadaku.
“Aku hanya sedih karena mengingat kenanganku bersama dengan sahabatku di masa lalu,” jawabku.
“Laila coba ceritakan padaku kisah persahabatanmu itu?” tanya Shirley lagi.
“Besok saja aku mencaritakan kisah persahabatanku itu, lebih baik kita mengerjakan tugas terlebih dahulu,” paksaku.
“Baiklah, aku akan menunggu ceritamu,” kata Shirley kepadaku.
Aku dan Shirley mulai mengerjakan tugas bersama-sama, hingga akhirnya tugas kami selesai dan Shirley kembali pulang kerumahnya, setelah itupun aku segera tidur.
            “Kring...kring...kring,” suara alarmku berdering, aku mematikannya, karena hari ini adalah hari libur, rencananya aku akan berkeliling Amerika Serikat, memang setiap hari Minggu aku selalu menggunakan waktuku untuk berkeliling Amerika Serikat, aku ingin lebih dalam memahami seluk beluk negara ini.
“Rasanya kurang seru bila tidak mengundang teman-teman untuk iku berkeliling Amerika Serikat, aku ingin mengundang Shirley, Louella, Claudette, Millicent, dan Gabrielle,” batinku.
Aku menghubungi kelima temanku yaitu Shirley, Louella, Claudette, Millicent, dan Gabrielle untuk menawarkan mereka berkeliling. Teman-teman setuju atas tawaranku, kecuali Claudette karena ia ingin ke luar kota. Kami sepakat untuk berkumpul terlebih dahulu di Washington Monument. Setelah bersiap-siap aku segera menuju ke Washington Monument, dan sesampainya disana kami berkumpul dan memulai perjalanan di Washington. Indahnya pemandangan disana, tumbuhan tertata rapi, airnya berwarna biru serta jernih, dan kami berfoto di bawah langit biru yang membuat pemandangan semakin menakjubkan. Ketika aku memegang kamera dan memfoto Louella dan Millicent, aku tidak fokus memfoto kedua sahabat itu karena justru aku membayangkan bahwa mereka adalah aku dan Sahabatku Suci yang sedang berfoto di bawah Monumen Nasional, Indonesia, padahal Louella dan Millicent sedang berpose dengan anggunnya namun aku tidak segera memencet tombol potret.
“Laila.....Ada apa denganmu, mengapa kamu melamun, apa yang kau bayangkan?” tanya Louella mendekatiku sambil mengibas-kibaskan tangan di depan wajahku.
“Apa...apa...apa...ada apa,” aku terkejut.
“Apa yang kamu pikirkan Laila,” tanya Shirley kepadaku.
“Iya Laila apa yang kamu bayangkan,” tanya Gabrielle kepadaku
“Maafkan aku aku telah mebuatmu terkejut Laila,” permintaan maaf Louella kepadaku.
“Aku tidak apa-apa, aku hanya iri dengan persahabatanmu Louella dengan Millicent, aku teringat dengan sahabatku yang ada di Indonesia, kisah-kisah yang kalian berdua alami sama seperti apa yang biasa aku lakukan dengan Suci, sahabatku, ketika aku melihat kebersamaan persahabatan kalian berdua aku justru melihat diriku sendiri dan sahabatku di Indonesia, 5 tahun kami tidak bertemu, walaupun kami masih berhubungan melalui media sosial, terakhir bertemu sejak aku lulus dari SMP, sejak malam aku selalu memikirkannya,” jawabku.
“Bersabarlah Laila, kau membuatku sedih, sebenarnya di Singapura akupun memiliki 2 sahabat namanya Rachel dan Mitchie Ling, aku terpaksa untuk mengakhiri persahabatan kami sesudah aku  mendapatkan informasi beasiswa, sebenarnya informasi itu ada 1 tahun sebelum aku dikirim ke Amerika, aku mengakhiri persahabatanku tanpa mengatakan alasanku ini, sebenarnya aku masih menyayangi mereka tapi aku terpaksa melakukan ini untuk menghindari perpisahan yang menyakitkan,” cerita Gabrielle.
“Jadi kalian sedih karena sahabat, kalau aku sedih karena harus berpisah dengan orang tua,” kata Shirley.
“Itu pasti...Shirley, Shirley, kamu aneh aneh saja,” bentakku, Louella, Millicent, dan Gabrielle secara bersamaan.
“Hehehe...maaf-maaf, ya udah deh sebagai permintaan maafku aku traktir kalian makan di Old Ebbitt Grill,” permintaan maaf Shirley kepadaku dan teman-teman.
“Benarkah Shirley, gitu dong, perut kita kan sudah kelaparan sejak tadi, berkeliling Washington itukan butuh banyak tenaga,” kataku.
Setelah kami makan kami melanjutkan berkeliling ke berbagai monumen sejarah, dan berfoto foto sambil bersenang-senang terutama di bawah Patung Liberty. Karena mulai sore, kami mengakhiri perjalanan pada hari ini, agar sisa waktu hari ini dapat kami gunakan untuk mengerjakan tugas, untuk itu kami beristirahat sebentar kemudian pulang kerumah masing-masing. Sesampainya aku di rumah aku segera menyelesaikan tugas dan laporan, malamnya aku ingin tidur, namun dalam hatiku masih ada bayang-bayang sahabatku Suci sehingga rasanya sulit memejamkan mata, hari semakin malam karena aku sedih dan tidak bisa tidur aku mengambil air wudhu, air wudhu itu menenangkan hatiku sehingga sekarang aku dapat tidur.
                    “Kring...kring...kring,” suara alarmku berdering, aku terbangun dari tidurku, kemudian aku mengerjakan Sholat sunah tahajud.
“Ya Allah, aku sangat merindukan orang tuaku berilah kesehatan dan keselamatan untuk mereka, selain mereka aku memohon pada-Mu ya Allah, aku sangat merindukan sahabatku Suci, aku  ingin bersamanya kembali seperti dulu, membina kebersamaan dan pertemanan dengan baik, aku mohon pertemukanlah hamba dengannya suatu saat nanti Ya Allah,” doaku ketika selesai sholat tahajud.
Setelah sholat aku mebuka buku-bukuku dan mengulangi pelajaran yang diajarkan minggu lalu, kemudian aku mandi dan bersiap-siap ke Harvard University. Setelah siap, aku segera menuju University, sesampainya disana kami semua memulai belajar. Akhirnya pelajaran telah usai, semua mahasiswa meninggalkan ruangan, sebelum pulang aku singgah terlebih dahulu untuk beristirahat di sebuah kursi bawah pohon yang rindang di taman University yang seju dan indah itu. Disana aku membayangkan sedang bercerita dengan Sahabatku Suci dibawah pohon beralaskan rumput rumput yang hijau dan duduk dengan kebahagiaan, ketika ku terbangun dari bayang bayangku itu ternyata kenyataannya aku hanya duduk di tempat yang sepi itu karena sebagian dari teman teman telah pulang lebih dahulu. Aku sangat sangat kesepian aku menginginkan sosok seorang sahabat, tiba tiba ada seseorang yang menggunakan kameranya untuk memfoto taman ini.
“Ckrik...ckrik...ckrik,” suara kamera orang itu dengan melihat suasana taman itu, dia berkata “Indah sekali taman ini, aku senang mendapat beasiswa di University ini, rasanya aku ingin segera masuk.”
“Sepertinya dia mahasiswa baru di sini, namun dari mata dan penampilannya sepertinya dia masyarakat Indonesia dan aku merasa wajahnya tidak asing, mungkin dia mendapat beasiswa sepertiku,” kataku.
Tanpa sengaja dia mengarahkan kameranya ke arahku kemudian memfotoku dan pemandangan taman dibelakangku.
“Ckrik...ckrik...ckrikk,” tiba tiba dia sadar bahwa dia telah memfoto seseorang”Mbak maaf...maaf, saya tidak sengaja memfoto mbak,” maafnya.
“Kamu! Suci kan bagaimana kamu bisa ada di sini?” tanyaku terkejut.
“Laila, akhirnya kita bisa bertemu, aku rindu denganmu, aku telah berkeliling Indonesia tanpamu rasanya sangat menyedihkan, aku disini karena mendapat tugas mempelajari berbagai budaya di dunia, yang pertama dan kedua aku ditugaskan untuk mencari tahu kebudayaan dan keindahan-keindahan di Prancis, dan Australia, lalu tujuanku yang terakhir adalah mencari tahu hal tersebut di Amerika Serikat ini, dan disini aku mendapat beasiswa untuk belajar Harvard Graduate School of Design, karena selain budaya aku ditugaskan untuk mempelajari seni desain di University ini,” Jawab Suci dengan rasa senang.
“Aku turut senang dengan kehadiranmu disini, akhirnya doaku selama ini dikabulkan oleh Allah, tak hanya kamu yang merindukanku tapi akupun sangat merindukanmu, setiap hari yang aku pikirkan hanyalah kenangan kenangan persahabatan kita,” kataku.
Aku dan sahabatku Suci berpelukan dengan erat, akupun terharu dan meneteskan air mata, bahkan Sucipun ikut menangis hingga membasahi pundakku, setelah itu kami menghapus air mata kami, kemudian aku mengantarkan Suci mengajukan beasiswa. Usai Suci mengajukan beasiswa kami pun beristirahat sebentar dan mulai berkeliling Amerika Serikat sambil bercerita.
“Laila, maukah kamu membantuku mencari foto foto di berbagai daerah dan bermacam macam pemandangan di Amerika ini, untuk menyelesaikan tugas tugasku?” tanya Suci.
“Tentu aku mau, aku sangat senang dapat melihat berbagai pemandangan yang indah, rasanya seperti apa yang kita lakukan di Indonesia dulu, kita berfoto di berbagai keindahan alam semesta ini,” jawabku dengan sangat gembira.
“ Terimakasih Laila, untuk tujuan kita yang pertama kita aku pergi ke embah grand canyon, telang kita tidak mendaki, kita hanya berfoto dibawah,” ajak Suci.
“Baiklah, mari kita ke lembah grand canyon,” kataku.

Aku dan Suci segera pergi ke lembah grand canyon, sesampainya disana kamiberfoto foto.
“Cantiknya, lembah itu warnanya orange, baru pertama kali aku melihat secara langsung lembah ini,” puji Suci tehadap lembah itu.
“Akupun takjub sepertimu,” sahutku.
“ Tujuan kita kedua adalah ke air terjun Tumalo, aku benar benar penasaran dengan air terjun itu,” ajak Suci.
“ Iya akupun ingin melihat air terjun itu secara langsung,” jawabku.
Kami mulai berangkat menuju air terjun tumalo itu, sesampainya disana kami berfoto, di bawah keindahan air terjun itu.
“Suci, indah sekali air terjun ini, aku tidak menyesal datang kesini, bahkan rasanya aku ingin setiap hari bermain air di sini,” kataku dengan takjub.
“Iya, indah sekali Laila, bahkan keindahannya melebihi dari foto yang aku dapatkan melalui internet, airnya jenih, dan bunga bunga ini menghiasi tebing air tenjun,” sahut Suci.
Kami berfoto di Air terjun ini, banyak foto yang kami dapatkan.
“Untuk mengakhiri perjalanan kita hari ini, tujuan kita yang ketiga adalah  Perbukitan Palouse disana kita bisa melihat lahan hijau yang sangat luas, dan angin yang segar waaupun sedikit panas,” ajak Suci.
“Sebenarnya aku telah merasa lelah, namun akupun ingin menemanimu dan merasakan kindahan alam ini,” jawabku.
“kalau memang kau sudah lelah, lebih baik kita akhiri perjalanan hari ini,” kata Suci.
“Lebih baik kita teruskan, tohh  Perbukitan Palouse tidak begitu jauh,” kataku.
Kami segera meneruskan perjalanan ke tujuan kita yang terakhir di Perbukitan Palouse, sesampainya disana kami menggelar tikar dan berfoto disana terlihat memang panas namun kehijauannya terbentang sangat luas.
“Sejuk sekali, namun kesejukan ini terkurangi oleh pasasnya matahari,” kataku.
“Iya kamu benar laila, lahan hijau yang membentang ini memang indah, tapi sepertinya jarang sekali ada rumah di daerah ini, lihat itu terlihat hanya ada sebuah rumah jauh di depan sana,” kata Suci sambil menunjuk sebuah rumah itu dengan jarinya.
Setelah lama berbincang bincang di bukit itu mengenai kenangan-kenangan kita di masa lalu dan pengalaman-pengalaman yang kami dapatkan semenjak kami berpisah. Setelah berbincang kamipun bergegas pulang, ketika di tengah perjalanan kami lapar, sehingga kami harus singgah terlebih dahulu di sebuah restaurant.
“Kamu lapar yaaa, aku juga lapar bagaimana bila kita makan dahulu sebelum pulang?” tanyaku.
“Sebenarnya aku memang lapar, tapi aku tidak suka dengan masakan di sini,” jawabnya.
“Jangan khawatir awalnya aku juga tidak suka makanan di sini, jadi pertama kali disini, setiap harinya aku makan di Indonesia Restaurant, disana ada gado-gado,nasi padang, nasi goreng, dll,” kataku.
“Benarkah, ya sudah kalau begitu aku ingin makan di restaurant itu,” kata Suci terkejut.
Sesampainya disana kami berbincang-bincang.
“Laila makanan disini enak uga, rasanya seperti makanan asli Indonesia,” puji Suci.
“Memang lezat, tapi pemilik restaurant ini benar-benar orang Amerika lho, ohh iya kamu tinggal dimana saat ini?”tanyaku.
“Aku belum sempat mencari apartement atau hotel di sini,” jawab Suci.
“Ya sudah setelah makan, kamu sementara menginap di Hotel Commonwealth Court, tempatku tinggal,” tawarku.
“Terimakasih Laila, kamu memang sahabat terbaikku,” ucapan terimakasih Suci kepadaku.
Setelah selesai makan, kami pulang menuju ke tempat tinggalku di Hotel Commonwealth Court, Suci ikut bersamaku untuk menginap sementara, sesampainya disana kami segera tidur.
“Selamat tidur Laila, kita akhiri hari kita ini, kita teruskan perjalanan kita mengelilingi Amerika Serikat besok,” kata Suci.
“Malam Sahabatku, kemanapun kita pergi aku akan selalu bahagia bersamamu,” kataku.
Aku dan Sucipun tertidur, kami mengakhiri hari ini dengan kebahagiaan, hari hari selanjutnya kami akan memulai persahabatan kita di Amerika ini, kami akan selalu menjadi sahabat yang baik dan saling menyemangati satu dengan yang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar