Karya : Laila Nur Auliani
Ayam berkokok dan mentari pagi
muncul memancarkan sinarnya hingga ke wajahku, aku terbangun dari tidurku,
dengan membuka mata perlahan aku menyadari sedang terbaring lemah di rumah
sakit, ku lihat Ibuku tertidur di sebuah sofa. Namaku Kurniawan Wahyu terdaftar
sebagai penderita HIV/AIDS di rumah sakit ini. Penyakit ini aku rasakan sejak 1
tahun yang lalu, Istriku menceraikanku, bahkan semua orang yang ada di
sekitarku meninggalkanku ketika mendengar penyakit yang aku derita ini, namun
aku masih mempunyai seorang Ibu yang menyayangi dan selalu merawatku sejak aku
dalam rahimnya hingga aku dewasa, bahkan ia tidak meninggalkanku saat penyakit
ini menyerangku di umurku yang menginjak 31 tahun ini. Aku memang terkejut
ketika pertama kali aku mendengar berita tentang penyakit ini, yang aku pun
tidak tau bagaimana penyakit ini menyerangku, namun aku yakin bahwa penyakit
ini adalah cobaan dari Yang Maha Kuasa, karena kehidupan memang tak luput dari
segala cobaan, aku yakin bahwa aku bisa menjalani semua cobaan ini tanpa rasa
putus asa, namun kesedihan ini selalu ada dalam hatiku, Istriku yang sangat aku
sayangi kini hanya meninggalkan kenangan yang sulit kulupakan. Kita membina
keluarga yang baik tapi aku tidak menyangka dia pergi meninggalkanku, sejak
saat itulah aku tertekan. Mungkin, rasa tertekan ini sudah aku rasakan berbulan-bulan,
namun aku sadar ini tidak ada gunanya Istriku tidak akan kembali kepadaku, saat
ini yang seharusnya aku pikirkan adalah agar aku bisa mempergunakan waktuku
sebaik baiknya sebelum ajal menjemputku, harapanku adalah di sisa hidupku ini
aku ingin bahagia bersama Ibuku, dan harta yang kami miliki saat ini akan aku gunakan
untuk beribadah.
“Ibu, mungkin
aku masih memiliki harapan untuk tetap memperjuangkan hidupku, namun bisa saja Tuhan berkata lain hidupku tidak
akan lama lagi, dan aku akan meninggalkan dunia ini, apapun yang terjadi aku
ingin merasakan kebahagiaan bersama Ibu,” harapanku.
“Jangan
mendahului takdir nak, hidup dan matimu itu ada di Tangan Tuhan, Ibu akan
selalu bersamamu nak dan kita akan bahagia bersama, Ibu akan selalu berusaha
dan berdoa untuk kesembuhanmu nak,” jawab Ibu.
“Apakah aku
boleh meminta tolong pada Ibu?” tanyaku.
“Tentu, Ibu akan
selalu menolongmu nak,” jawab Ibu.
“Begini Bu,
kita memiliki harta yang berlebih, apakah Ibu bersedia untuk membagi sebagian
harta kita untuk orang-orang yang membutuhkan?” tanyaku.
“Nak harta itu
bukan segalanya untuk kita, karena Ibu hanya menginginkan kesembuhanmu nak,
jika itu sebuah perbuatan baik maka lakukanlah nak, Ibu sangat setuju dan tidak
akan melarangmu,” jawab Ibu.
“Hati Ibu
sangatlah lembut, Ibu selalu memberikan semangat untukku bertahan hidup, dan selalu
membimbingku ke jalan yang benar, aku sangat bangga memiliki Ibu yang tegar dan
penyabar,” kataku sambil meneteskan air mata sebab aku ingin memeluk Ibu, tapi
aku tak mampu bergerak.
“Ibu pun bangga
padamu nak, kamu tidak putus asa atas segala cobaan yang Tuhan berikan, kamu
selalu bersyukur dan mengejar harapanmu untuk bisa memanfaatkan waktumu
sebaik-baiknya,” puji Ibu.
“Aku ingin
membahagiakan Ibu, tapi saat ini justru Ibu yang selalu membuatku bahagia, aku
minta maaf Bu karena aku tidak sanggup membalas semua jasa Ibu selama ini”
kataku disertai tetesan air mata.
“Jangan pikirkan
itu nak, sejak Ibu pertama kali melahirkan dan melihatmu, hati Ibu sangat
bahagia, kau adalah sebuah anugrah dari Tuhan untuk Ibu dan Ayah nak, Ibu tidak
ingin kehilangan permata sepertimu dalam hidup Ibu, wajahmu mengukir kisah
cinta dan kenangan Ibu bersama Ayahmu yang kini sudah tiada, Ibu mohon nak
perjuangkanlah hidupmu karena Ibu sangat sedih dengan kondisimu terbaring
seperti ini,” kata Ibu.
“Terimakasih
atas semua jasa yang Ibu berikan, aku hanya bisa berdoa untuk Ibu agar semua
yang Ibu berikan padaku akan dibalas oleh Tuhan berlipat-lipat ganda, dan
diakhirat nanti kita semua bisa bahagia di surga,” kataku.
“Amin,
Insyaallah Tuhan akan mengabulkan segala permintaan dan doa dari hamba-hambanya
yang sholeh, nak istirahatlah hari sudah malam, besok ibu akan menyiapkan
makanan kesukaanmu,” kata Ibu.
“Sekali lagi
terimakasih bu,” kataku.
Setelah
berbincang-bincang dengan Ibu aku mulai tidur untuk beristirahat.
Aku bangun dari tidurku, aku
bersyukur karena masih diberi kehidupan dan masih bisa menghirup udara yang
segar ini sebagai rizky dari Tuhan. Jam menunjukkan pukul 03.00 malam, seperti
biasa aku akan melaksanakan shalat tahajud. Biasanya Ibu selalu bersamaku
melaksanakan shalat sunah ini, tapi saat ini Ibu masih tertidur di sofa, aku
tidak ingin mengganggunya sepertinya Ibu sangat lelah. Aku segera tayammum,
dengan posisiku yang terbaring aku melaksanakan shalat.
“Allahu Akbar”
aku memulai shalatku dengan bacaan takbir.
Mungkin semasa
sakit aku tidak bisa melakukan banyak gerakan, tapi sebagai seorang muslim aku
tidak boleh meninggalkan kewajibanku untuk melaksanakan shalat, karena Allah
selalu memberi kemudahan pada semua hambanya, mungkin aku tidak bisa shalat
dengan gerakan-gerakan yang sempurna, namun dengan kemudahan yang Allah berikan
aku bisa melaksanakan shalat dalam posisi terbaring, dan melakukan gerakan
gerakan shalat walau terbatas hingga aku menyelesaikan shalatku.
Aku salam
dengan menoleh ke kanan dan mengucap,“Assalamu alaikum wa rahmatullah wa
barakatuh” kemudian menoleh ke kiri dengan mengucap, “Assalamu alaikum wa
rahmatullah wa barakatuh.”
Selesai
shalatku aku mencoba untuk menggerakkan dan mengangkat tanganku, dan aku
terkejut setelah satu minggu tanganku tidak bisa digerakkan akhirnya aku bisa
mengangkat kedua tanganku dan berdoa, "Allahumma anta robbii laa ilaaha
illaa anta, kholaqtanii wa ana ‘abduka wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika
mastatho’tu. A’udzu bika min syarri maa shona’tu, abuu-u laka bini’matika
‘alayya, wa abuu-u bi dzanbii, faghfirlii fainnahuua laa yaghfirudz dzunuuba illa
anta," setelah aku meminta ampunan pada Allah dengan do’a itu aku
melanjutkan dengan dzikir kemudian berdoa, “ Ya Allah, mungkin kesembuhan itu
ada di tangan-Mu, dan aku tidak meminta kesembuhan dari-Mu, karena aku tahu
semua takdir yang engkau tetapkan kepadaku adalah hal terbaik dalam hidupku,
karena sebenarnya harapanku hanya satu aku hanya ingin bahagia bersama Ibuku di
sisa hidupku. Aku hanya memohon padamu Ya Allah, aku mohon bukakanlah pintu
surga dengan segala kenikmatan untuk Ibuku, aku hanya bisa berdoa karena aku
tidak bisa membalas semua jasa yang Ibuku berikan, aku mohon Ya Allah berikan
kebahagiaan untuk Ibuku nantinya di Akhirat, karena sebelum takdir
menlenyapkanku aku hanya bisa berdoa.”
Setiap saat
doa ini aku tuturkan, aku hanya berharap Tuhan mengabulkan permohonanku ini, do’a
ini membuatku menangis karena mengingatkanku dengan perjalanan hidupku di masa
lalu, aku belum sempat membahagiakan Ibuku, tapi kini aku benar benar tidak
bisa, mungkin aku hanya bisa berdoa untuk Ibuku dalam setiap nafas yang aku
hirup.
Hari demi hari penyakit ini
menyerang tubuhku, daya tahan tubuh dan kondisiku semakin menurun dan bertambah
parah, hingga saat ini aku merasa organ pernafasanku terganggu dan terasa
sangat sakit. Tiba-tiba dokter memasuki ruanganku dan mengatakan bahwa penyakit
HIV/AIDS ini membuat paru-paruku mulai rusak, dan aku harus menjalani operasi,
sebenarnya aku masih trauma dengan operasi tahun lalu yang membuatku koma, tapi
demi mempertahankan kehidupanku Ibu menyetujui pelaksanaan operasi ini. Tepat
pada hari Jum’at operasiku akan dilaksanakan, Suster dan Dokter membawaku ke
ruang operasi, sebelum memasuki ruang operasi aku menggenggam tangan Ibu dan
berkata, “Bu, doakan aku agar operasi ini dapat berjalan dengan lancar, aku
mohon selama aku menjalani operasi Ibu jangan gelisah dan mengkhawatirkanku,
karena insyaallah Tuhan ada di sampingku Bu.” Ibu menjawab, “Ibu akan selalu
mendoakan mu nak.”
Setelah memasuki ruang operasi,
Dokter membiusku, kemudian memulai operasi. Waktu berjalan, di luar ruang
operasi, Ibu selalu berdo’a untukku demi kesembuhan dan keselamatanku, namun
kondisiku di ruang operasi semakin kritis, denyut jantungku melemah, dan
nafasku sesak. Matahari mulai naik, adzan dhuhur berkumandang, “allahu akbar, allahu
akbar,” suara adzan sampai terdengar di telingaku, di alam bawah sadar, aku
merasa bahwa kehidupan yang baru akan menghampiriku. Setelah mendengar adzan
kondisiku yang tadinya kritis mulai membaik. Disisi lain setelah Ibu mendengar
adzan, Ibu pun segera berwudhu, kemudian ke mushola untuk shalat dzuhur. Tiap
rakaat dan gerakan shalat Ibu lakukan, namun pada saat sujud rakaat terakhir,
Imam sudah salam namun Ibu tetap saja sujud dan belum melaksanakan tahiyat
akhir, tiba-tiba Ibu terjatuh dan tergeletak, orang-orang segera menghampiri
Ibu, mereka merasa Ibu sudah tidak bernafas dan jantungnya pun tidak berdetak,
“innalillahi wa inna ilaihi rojiun,” kata seseorang setelah memeriksa nadi Ibu,
ternyata Ibu sudah meninggal, dan aku yang masih menjalani operasi belum
mengetahui hal ini.
Operasiku
selesai, tiga jam usai operasi aku baru sadarkan diri di ruang perawatan,
tiba-tiba Suster memberitahuku bahwa Ibuku sudah meninggal tepat waktu dzuhur
tadi saat menjalankan Ibadah. Aku pun terkejut dan mulai menangis. Suster pun
menenangkanku sejenak kemudian meninggalkanku.
“Ya Allah,
mengapa engkau mengambil Ibu yang sangat aku sayangi, satu-satunya orang yang
selalu membuatku bahagia dan memberikan semangat untukku dalam menjalani cobaan
ini, tapi ini sebuah takdir, kematian seseorang ada di tanganmu, aku akan
mengikhlaskan Ibu karena aku tahu Ibu meninggal khusnul khotimah di hari yang
suci ini,” kataku sambil menangis.
Hari-hariku di rumah sakit ini kini
hanya aku jalani sendiri tanpa Ibuku, mungkin kebahagiaanku sirna oleh
kesedihan, namun aku berusaha untuk tetap menerima takdir. Satu bulan setelah
Ibuku meninggal, sebuah hal yang luar biasa membuatku bahagia, benar-benar
sebuah keajaiban yang tidak akan pernah aku lupakan, penyakit yang aku pikir
tidak akan bisa disembuhkan dan bisa melenyapkanku dari dunia ini, ternyata penyakit
HIV/AIDS ini kini sembuh secara total karena mukjizat yang diberikan Tuhan. Setelah
penyakit ini benar benar sembuh aku kembali kerumah, dan sebagai rasa syukurku
aku akan menjalani ibadah umrah, dan disana aku akan berterimakasih pada Tuhan
atas kesembuhanku ini, berdo’a untuk Ibuku, dan berdoa agar lembaran hidupku
yang baru ini lebih baik dari pada kehidupanku di masa lalu.
