Rabu, 27 April 2016

Cerpen Laila Nur Auliani yang Berjudul Sakit Ini Tak Putuskan Asa dan Kebahagiaanku



                           Sakit Ini Tak Putuskan Asaku
                           Karya : Laila Nur Auliani
            Ayam berkokok dan mentari pagi muncul memancarkan sinarnya hingga ke wajahku, aku terbangun dari tidurku, dengan membuka mata perlahan aku menyadari sedang terbaring lemah di rumah sakit, ku lihat Ibuku tertidur di sebuah sofa. Namaku Kurniawan Wahyu terdaftar sebagai penderita HIV/AIDS di rumah sakit ini. Penyakit ini aku rasakan sejak 1 tahun yang lalu, Istriku menceraikanku, bahkan semua orang yang ada di sekitarku meninggalkanku ketika mendengar penyakit yang aku derita ini, namun aku masih mempunyai seorang Ibu yang menyayangi dan selalu merawatku sejak aku dalam rahimnya hingga aku dewasa, bahkan ia tidak meninggalkanku saat penyakit ini menyerangku di umurku yang menginjak 31 tahun ini. Aku memang terkejut ketika pertama kali aku mendengar berita tentang penyakit ini, yang aku pun tidak tau bagaimana penyakit ini menyerangku, namun aku yakin bahwa penyakit ini adalah cobaan dari Yang Maha Kuasa, karena kehidupan memang tak luput dari segala cobaan, aku yakin bahwa aku bisa menjalani semua cobaan ini tanpa rasa putus asa, namun kesedihan ini selalu ada dalam hatiku, Istriku yang sangat aku sayangi kini hanya meninggalkan kenangan yang sulit kulupakan. Kita membina keluarga yang baik tapi aku tidak menyangka dia pergi meninggalkanku, sejak saat itulah aku tertekan. Mungkin, rasa tertekan ini sudah aku rasakan berbulan-bulan, namun aku sadar ini tidak ada gunanya Istriku tidak akan kembali kepadaku, saat ini yang seharusnya aku pikirkan adalah agar aku bisa mempergunakan waktuku sebaik baiknya sebelum ajal menjemputku, harapanku adalah di sisa hidupku ini aku ingin bahagia bersama Ibuku, dan harta yang kami miliki saat ini akan aku gunakan untuk beribadah.
“Ibu, mungkin aku masih memiliki harapan untuk tetap memperjuangkan hidupku, namun  bisa saja Tuhan berkata lain hidupku tidak akan lama lagi, dan aku akan meninggalkan dunia ini, apapun yang terjadi aku ingin merasakan kebahagiaan bersama Ibu,” harapanku.
“Jangan mendahului takdir nak, hidup dan matimu itu ada di Tangan Tuhan, Ibu akan selalu bersamamu nak dan kita akan bahagia bersama, Ibu akan selalu berusaha dan berdoa untuk kesembuhanmu nak,” jawab Ibu.
“Apakah aku boleh meminta tolong pada Ibu?” tanyaku.
“Tentu, Ibu akan selalu menolongmu nak,” jawab Ibu.
“Begini Bu, kita memiliki harta yang berlebih, apakah Ibu bersedia untuk membagi sebagian harta kita untuk orang-orang yang membutuhkan?” tanyaku.
“Nak harta itu bukan segalanya untuk kita, karena Ibu hanya menginginkan kesembuhanmu nak, jika itu sebuah perbuatan baik maka lakukanlah nak, Ibu sangat setuju dan tidak akan melarangmu,” jawab Ibu.
“Hati Ibu sangatlah lembut, Ibu selalu memberikan semangat untukku bertahan hidup, dan selalu membimbingku ke jalan yang benar, aku sangat bangga memiliki Ibu yang tegar dan penyabar,” kataku sambil meneteskan air mata sebab aku ingin memeluk Ibu, tapi aku tak mampu bergerak.
“Ibu pun bangga padamu nak, kamu tidak putus asa atas segala cobaan yang Tuhan berikan, kamu selalu bersyukur dan mengejar harapanmu untuk bisa memanfaatkan waktumu sebaik-baiknya,” puji Ibu.
“Aku ingin membahagiakan Ibu, tapi saat ini justru Ibu yang selalu membuatku bahagia, aku minta maaf Bu karena aku tidak sanggup membalas semua jasa Ibu selama ini” kataku disertai tetesan air mata.
“Jangan pikirkan itu nak, sejak Ibu pertama kali melahirkan dan melihatmu, hati Ibu sangat bahagia, kau adalah sebuah anugrah dari Tuhan untuk Ibu dan Ayah nak, Ibu tidak ingin kehilangan permata sepertimu dalam hidup Ibu, wajahmu mengukir kisah cinta dan kenangan Ibu bersama Ayahmu yang kini sudah tiada, Ibu mohon nak perjuangkanlah hidupmu karena Ibu sangat sedih dengan kondisimu terbaring seperti ini,” kata Ibu.
“Terimakasih atas semua jasa yang Ibu berikan, aku hanya bisa berdoa untuk Ibu agar semua yang Ibu berikan padaku akan dibalas oleh Tuhan berlipat-lipat ganda, dan diakhirat nanti kita semua bisa bahagia di surga,” kataku.
“Amin, Insyaallah Tuhan akan mengabulkan segala permintaan dan doa dari hamba-hambanya yang sholeh, nak istirahatlah hari sudah malam, besok ibu akan menyiapkan makanan kesukaanmu,” kata Ibu.
“Sekali lagi terimakasih bu,” kataku.
Setelah berbincang-bincang dengan Ibu aku mulai tidur untuk beristirahat.

            Aku bangun dari tidurku, aku bersyukur karena masih diberi kehidupan dan masih bisa menghirup udara yang segar ini sebagai rizky dari Tuhan. Jam menunjukkan pukul 03.00 malam, seperti biasa aku akan melaksanakan shalat tahajud. Biasanya Ibu selalu bersamaku melaksanakan shalat sunah ini, tapi saat ini Ibu masih tertidur di sofa, aku tidak ingin mengganggunya sepertinya Ibu sangat lelah. Aku segera tayammum, dengan posisiku yang terbaring aku melaksanakan shalat.
“Allahu Akbar” aku memulai shalatku dengan bacaan takbir.
Mungkin semasa sakit aku tidak bisa melakukan banyak gerakan, tapi sebagai seorang muslim aku tidak boleh meninggalkan kewajibanku untuk melaksanakan shalat, karena Allah selalu memberi kemudahan pada semua hambanya, mungkin aku tidak bisa shalat dengan gerakan-gerakan yang sempurna, namun dengan kemudahan yang Allah berikan aku bisa melaksanakan shalat dalam posisi terbaring, dan melakukan gerakan gerakan shalat walau terbatas hingga aku menyelesaikan shalatku.
Aku salam dengan menoleh ke kanan dan mengucap,“Assalamu alaikum wa rahmatullah wa barakatuh” kemudian menoleh ke kiri dengan mengucap, “Assalamu alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.”
Selesai shalatku aku mencoba untuk menggerakkan dan mengangkat tanganku, dan aku terkejut setelah satu minggu tanganku tidak bisa digerakkan akhirnya aku bisa mengangkat kedua tanganku dan berdoa, "Allahumma anta robbii laa ilaaha illaa anta, kholaqtanii wa ana ‘abduka wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu. A’udzu bika min syarri maa shona’tu, abuu-u laka bini’matika ‘alayya, wa abuu-u bi dzanbii, faghfirlii fainnahuua laa yaghfirudz dzunuuba illa anta," setelah aku meminta ampunan pada Allah dengan do’a itu aku melanjutkan dengan dzikir kemudian berdoa, “ Ya Allah, mungkin kesembuhan itu ada di tangan-Mu, dan aku tidak meminta kesembuhan dari-Mu, karena aku tahu semua takdir yang engkau tetapkan kepadaku adalah hal terbaik dalam hidupku, karena sebenarnya harapanku hanya satu aku hanya ingin bahagia bersama Ibuku di sisa hidupku. Aku hanya memohon padamu Ya Allah, aku mohon bukakanlah pintu surga dengan segala kenikmatan untuk Ibuku, aku hanya bisa berdoa karena aku tidak bisa membalas semua jasa yang Ibuku berikan, aku mohon Ya Allah berikan kebahagiaan untuk Ibuku nantinya di Akhirat, karena sebelum takdir menlenyapkanku aku hanya bisa berdoa.”
Setiap saat doa ini aku tuturkan, aku hanya berharap Tuhan mengabulkan permohonanku ini, do’a ini membuatku menangis karena mengingatkanku dengan perjalanan hidupku di masa lalu, aku belum sempat membahagiakan Ibuku, tapi kini aku benar benar tidak bisa, mungkin aku hanya bisa berdoa untuk Ibuku dalam setiap nafas yang aku hirup.
            Hari demi hari penyakit ini menyerang tubuhku, daya tahan tubuh dan kondisiku semakin menurun dan bertambah parah, hingga saat ini aku merasa organ pernafasanku terganggu dan terasa sangat sakit. Tiba-tiba dokter memasuki ruanganku dan mengatakan bahwa penyakit HIV/AIDS ini membuat paru-paruku mulai rusak, dan aku harus menjalani operasi, sebenarnya aku masih trauma dengan operasi tahun lalu yang membuatku koma, tapi demi mempertahankan kehidupanku Ibu menyetujui pelaksanaan operasi ini. Tepat pada hari Jum’at operasiku akan dilaksanakan, Suster dan Dokter membawaku ke ruang operasi, sebelum memasuki ruang operasi aku menggenggam tangan Ibu dan berkata, “Bu, doakan aku agar operasi ini dapat berjalan dengan lancar, aku mohon selama aku menjalani operasi Ibu jangan gelisah dan mengkhawatirkanku, karena insyaallah Tuhan ada di sampingku Bu.” Ibu menjawab, “Ibu akan selalu mendoakan mu nak.”
            Setelah memasuki ruang operasi, Dokter membiusku, kemudian memulai operasi. Waktu berjalan, di luar ruang operasi, Ibu selalu berdo’a untukku demi kesembuhan dan keselamatanku, namun kondisiku di ruang operasi semakin kritis, denyut jantungku melemah, dan nafasku sesak. Matahari mulai naik, adzan dhuhur berkumandang, “allahu akbar, allahu akbar,” suara adzan sampai terdengar di telingaku, di alam bawah sadar, aku merasa bahwa kehidupan yang baru akan menghampiriku. Setelah mendengar adzan kondisiku yang tadinya kritis mulai membaik. Disisi lain setelah Ibu mendengar adzan, Ibu pun segera berwudhu, kemudian ke mushola untuk shalat dzuhur. Tiap rakaat dan gerakan shalat Ibu lakukan, namun pada saat sujud rakaat terakhir, Imam sudah salam namun Ibu tetap saja sujud dan belum melaksanakan tahiyat akhir, tiba-tiba Ibu terjatuh dan tergeletak, orang-orang segera menghampiri Ibu, mereka merasa Ibu sudah tidak bernafas dan jantungnya pun tidak berdetak, “innalillahi wa inna ilaihi rojiun,” kata seseorang setelah memeriksa nadi Ibu, ternyata Ibu sudah meninggal, dan aku yang masih menjalani operasi belum mengetahui hal ini.
Operasiku selesai, tiga jam usai operasi aku baru sadarkan diri di ruang perawatan, tiba-tiba Suster memberitahuku bahwa Ibuku sudah meninggal tepat waktu dzuhur tadi saat menjalankan Ibadah. Aku pun terkejut dan mulai menangis. Suster pun menenangkanku sejenak kemudian meninggalkanku.
“Ya Allah, mengapa engkau mengambil Ibu yang sangat aku sayangi, satu-satunya orang yang selalu membuatku bahagia dan memberikan semangat untukku dalam menjalani cobaan ini, tapi ini sebuah takdir, kematian seseorang ada di tanganmu, aku akan mengikhlaskan Ibu karena aku tahu Ibu meninggal khusnul khotimah di hari yang suci ini,” kataku sambil menangis.
            Hari-hariku di rumah sakit ini kini hanya aku jalani sendiri tanpa Ibuku, mungkin kebahagiaanku sirna oleh kesedihan, namun aku berusaha untuk tetap menerima takdir. Satu bulan setelah Ibuku meninggal, sebuah hal yang luar biasa membuatku bahagia, benar-benar sebuah keajaiban yang tidak akan pernah aku lupakan, penyakit yang aku pikir tidak akan bisa disembuhkan dan bisa melenyapkanku dari dunia ini, ternyata penyakit HIV/AIDS ini kini sembuh secara total karena mukjizat yang diberikan Tuhan. Setelah penyakit ini benar benar sembuh aku kembali kerumah, dan sebagai rasa syukurku aku akan menjalani ibadah umrah, dan disana aku akan berterimakasih pada Tuhan atas kesembuhanku ini, berdo’a untuk Ibuku, dan berdoa agar lembaran hidupku yang baru ini lebih baik dari pada kehidupanku di masa lalu.