Seruan Sosok Keluarga Inspirasi
Karya : Laila Nur Auliani
Namaku adalah Raden Hadi
Umar Wijaya, nama itu adalah pemberian dari Kakekku sebagai pesan sebelum Kakekku
meninggal. Pada tanggal
15 Agustus tahun 1980, hari itu adalah malam dimana aku dilahirkan, bersamaan
dengan hari kelahiranku, di tempat yang berbeda Kakekku mengalami serangan
jantung karena tekanan darah yang tinggi dan terbebani oleh beberapa masalah. Pada
saat itu Kakekku sedang bersama Ayahku, sehingga Ayahku membawa Kakekku ke
rumah sakit yang sama dimana aku dilahirkan. Sebelum Kakekku meninggal ia
sempat mencium keningku dan memberiku sebuah nama yang memiliki arti sangat
indah, Kakekku berpesan kepada Ayahku agar menjaga dan mendidikku hingga aku
dewasa, dan menjadi pribadi yang baik agar siap memajukan bangsa dan negara
dengan mendasarkan agama.
“ Cucuku, Kakek ingin ketika dewasa nanti kamu menjadi putra bangsa yang
akan menjadikan Indonesia ini semakin jaya dan semakin maju, menjadi seseorang
yang taat beragama sebagai muslim sejati, berbakti kepada orang tua, memiliki
keberanian terutama untuk membela negara dan melindungi agama Islam, serta tak
pantang menyerah ataupun putus asa dalam kondisi apapun, seperti arti dari nama
yang Kakek berikan untukmu Cucuku, Kakek ingin kamu memiliki kepribadian
seperti yang dicontohkan oleh Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto,” Kakek
mengatakannya dengan suara yang sesak.
Untuk yang kedua kalinya, sebelum Kakekku meninggal ia mencium keningku
kembali, dan pada saat itu tampak aku sedang tersenyum, sesudah Kakekku mencium
keningku ia pun langsung menutup matanya yang menandakan ia sudah meninggal,
dengan seketika saat itu aku langsung menangis hingga membangunkan Ibuku yang
sedang tidur setelah melahirkanku. Suster dan Dokter melepas alat medis yang
digunakan Kakek, lalu Ayah membawaku ke kamar, dan aku pun terdiam dari
tangisku ketika dipangkuan Ibu.
“Suamiku, bagaimana dengan keadaan Ayah ?” tanya Ibu karena belum
mengetahui keadaan yang sebenarnya.
“Ayah telah meninggalkan kita semua untuk selamanya,” jawab Ayah dengan
jujur.
“Inallilahi Wainalililahi Rojiun, Ayah sudah meninggal!” Ibu mulai
meneteskan air mata.
“Istriku, jangan menangis ikhlaskan saja agar Ayahmu bisa tenang di sana,”
Ayah berusaha menenangkan Ibu.
“Baiklah Suamiku, tapi semua kenangan-kenangan dan kasih sayang Ayah
kepadaku tidak akan pernah aku lupakan, betapa sayangnnya aku dengan Ayah
karena dia adalah seseorang yang kuat dan tegar, ia mendidikku dengan baik
walau Ibuku sudah meninggal sejak aku dilahirkan, ia menanamkan perilaku yang
baik untukku sejak aku kecil hingga kini aku telah menjadi seorang Ibu dan
Istri yang baik, ” jawab Ibu.
“Sebagai Suamimu aku pun bangga memiliki Istri sepertimu, kau adalah Istri
yang baik, rajin, mandiri, taat pada agama dan pada suamimu ini,” ucapan Ayah
karena bangga pada Ibu.
“Itu adalah kewajibanku sebagai seorang Istri, aku akan selalu menjadi
Istri yang baik untukmu, serta akan selalu setia kepadamu, seperti apa yang
telah Ayah dan Ibu ajarkan kepadaku, Ayah tidak pernah menginginkan pernikahan
yang kedua kalinya, karena hanya ingin mendidikku agar aku menjadi anak yang berguna
dan berbakti kepadanya,” jawab Ibu.
“Insyaallah, aku akan setia sebagai Suamimu, aku akan berusaha agar bisa
menjadi imam yang baik untuk keluarga kita dan menjadi tauladan yang baik untuk
seluruh anggota keluarga terutama anak kita,” janji Ayah pada Ibu dan keluarga.
“Semoga doa-doa kita dapat dikabulkan oleh Allah SWT, sebelumnya apakah
Ayah sempat memberi pesan-pesan terakhir untuk kita?” Ibu bertanya.
“Sebelum Ayah meninggal, Ayah sempat memberikan sebuah nama yang indah
untuk anak kita,” jawab Ayah.
“Coba katakan Suamiku, apa nama yang Ayah berikan untuk anak kita?” Ibu
mulai penasaran.
“Raden Hadi Umar Wijaya, itulah nama yang Ayah berikan untuk anak kita,” jawab
Ayah.
“Nama yang bagus, mungkin Ayahku memberi nama itu karena Ayah ingin anak
kita memiliki sifat yang baik seperti sosok Raden Hadji Oemar Said
Tjokroaminoto, dulu Ayah pernah bercerita padaku ketika jaman penjajahan, saat
Ayahku masih kecil ia sering kali bertanya tentang agama dan dekat sekali
dengan sosok beliau,” Ibuku berkomentar dan menambahkan sedikit cerita.
“Kamu benar Istriku, itulah alasan Ayah memberikan nama itu untuk anak
kita, namun Ayah juga berpesan agar kita dapat menjaga serta membesarkan anak
kita hingga ia dewasa dan menanamkan ilmu Agama agar anak kita berguna bagi
bangsa, negara, maupun agamannya,” Ayah memberitahukan pesan yang kedua.
“Lalu, apa panggilan yang cocok untuk anak kita?” tanya Ibu.
“Raden, Umar, atau Jaya, hmmm...menurutmu mana yang bagus Istriku?” Ayah
sedikit bingung.
“Bagaimana, kita panggil Umar saja, karena nama itu adalah nama asli dari
HOS Tjokroaminoto,” Ibu memberi sedikit usul.
“Ide yang bagus Istriku, baiklah kita panggil anak kita dengan sebutan
Umar,” Ayah setuju dengan usul Ibu.
Saat Ayah dan Ibu sedang berbincang bincang aku pun terbagun kemudian
menangis dan merengek di box bayi.
“Sepertinya suara kita membangunkan Umar, sehingga ia terbangun,” kata Ibu.
“Tidak Istriku, sepertinya Umar ingin ikut berbincang bincang dengan kita,”
canda Ayah.
“Jangan Bercanda suamiku, ini bukan waktu yang tepat,” Ibu kesal.
“Siapa yang bilang kalau aku bercanda, aku tidak bercanda, tadi ketika Ayah
mencium kening Umar, dia tersenyum, ketika Ayah memejamkan mata, Umar menangis,
sepertinya ia sudah dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang
disekitarnya,” Ayah memberi sedikt penjelasan.
“Benarkah, Umar memang anak yang hebat Suamiku, aku yakin ketika ia dewasa
nanti Umar akan menjadi orang yang hebat, dan akan mengangkat derajat kita
sebagai orang tuanya,” kebanggaan Ibu terhadapku.
Ibu menggendong dan menyanyikanku lagu tidur, agar aku berhenti menangis.
Setelah aku berhenti menangis dan mulai tertidur, Ibu menaruhku kembali ke box
dan memerintah Ayah agar segera tidur, karena esok hari adalah pemakaman Kakek.
Setelah tidur, pagi-pagi
Ibu dan Ayah telah berkemas-kemas untuk segera pulang ke rumah, dan
meninggalkan rumah sakit. Sampai di rumah banyak masyarakat yang sedang
tahlilan dan berdoa untuk Kakekku, terlihat banyak masyarakat yang turut sedih
berduka cita atas kematian Kakekku, menurut mereka Kakekku adalah seorang
tauladan bagi mereka, Kakekku dihormati dan disegani oleh seluruh masyarakat, Kakekku
adalah seorang pahlawan yang dulu ketika ia masih muda ikut memperjuangkan bangsa
Indonesia agar mengalahkan para penjajah dan kolonial yang mengganggu
ketenangan rakyat yang membuat rakyat sengasara. Kakekku tak pernah kenal lelah
dalam merebut bangsa Indonesia dari penjajah yang seenaknya memanfaatkan tanah
Indonesia yang tercinta ini, Kakekku selalu mengikuti organisasi-organisasi
yang memiliki tujuan baik, bahkan hampir seluruh organisasi Indonesia Kakekku
ikuti, Kakekku mengenal sosok HOS Tjokroaminoto sejak kecil, ketika dewasa ia
pun ikut serta pada organisasi syariat dagang Islam yang dibentuk oleh beliau,
Kakekku gemar sekali mempelajari berbagai bidang, sehingga Kakekku sangat
cerdas, semua permasalahan baik pribadi maupun permasalahan masyarakat, dapat
terselesaikan dengan semua usul-usul yang Kakekku berikan, bahkan semua usul
tersebut tidak menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat, sehingga ketika
Kakekku memberikan sebuah usul pasti masyarakat menyetujuinnya.
“Ketika membaca ayat suci Al-Quran untuk mendoakan Ayah, banyak masyarakat
yang meneteskan air mata, mereka tidak ingin kehilangan orang yang selalu
mereka hormati, dan mereka bersedia seharian mendoakan Ayah dengan ayat suci
Al-Quran di tempat ini dengan wajah yang dibasahi air mata,” kata Ibuku, yang
mulai menangis.
“Benar Istriku karena Ayah adalah tauladan bagi kita dan seluruh orang di
sekitarnya,” Ayah membenarkan apa yang dikatakan Ibu.
“ Aku sangat menyayangi Ayah, aku selalu bermain dan bersamanya setiap
waktu, 1 jam saja kami berpisah rasanya 1000 tahun telah berlalu, bahkan ketika
sekolah saja aku selalu mengingatnya, Ayah selalu membantuku dalam belajar,
sehingga aku menjadi anak yang pandai dan menjadi sarjana dengan nilai
terbaik.” ucap Ibuku.
“Aku berharap kamu seperti Ayah, kamu dapat membantu Umar dalam belajar
hingga ia menjadi anak yang cerdas seperti kamu dan Kakeknya,” harapan Ayah.
“Tentu Suamiku, aku akan mengajarkan semua ilmu yang aku miliki untuk Umar
baik ilmu agama maupun ilmu duniawi, aku ingin kita semua nantinya dapat
berkumpul di surga terutama bersama Ayah dan Ibu,” jawaban dan doa Ibu untuk
seluruh anggota keluarga.
“Baiklah Istriku, aku akan menyiapkan pemakaman Ayah sekarang, janganlah
menangis, Insyaallah suatu saat nanti kita dapat berkumpul di Surga,” kata Ayah
sambil menghapus air mata Ibu.
“Silahkan suamiku, aku juga akan bersiap-siap untuk ikut kepemakaman Ayah,”
Ibu mempersilahkan Ayah untuk menyiapkan pemakaman.
Ibu mencium tangan Ayah, lalu Ayah segera menyiapkan keranda dan segala
sesuatu untuk pemakaman Kakekku. Akhirnya Kakekku sudah dimakamkan. Semua orang
pergi meninggalkan kuburan, dan tinggalah disana Ayah dan Ibu yang menaburkan
bunga di makam Kakek.
“Ayah, aku akan selalu berdoa untuk Ayah, agar Ayah diterima di sisi Allah dan
diterima amal ibadah yang Ayah lakukan selama di dunia ini,” Ibu berdoa untuk
Ayah di pemakaman.
“Ayah, aku sebagai seorang Suami berjanji untuk menjaga Istri dan anakku,
sesuai dengan pesan Ayah, aku akan mendidik dan membesarkan Umar agar menjadi
seseorang yang baik seperti apa yang telah Ayah contohkan di dalam keluarga
kami,” Janji Ayah kepada kakek.
Ibu dan Ayah meninggalkan kuburan Kakek dan pulang ke rumah. Sesampai di
rumah Ibu mandi kemudian menggendong dan menyusuiku.
“Anakku Kakekmu telah meninggal,
namun setidaknya Kakek bisa melihatmu untuk yang terakhir kali, jika tidak
pasti Ibu akan merasakan kesedihan yang amat dalam dan kecewa pada diriku sendiri,
namun Allah berkata lain, Allah sempat mempertemukanmu dengan Kakekmu dalam
detik detik terakhir,” kata Ibuku.
Tiba tiba Ayah datang, “Lucu sekali anak kita ini Istriku, wajahnya seperti
Kakeknya di masa muda, hidungnya mancung sepertimu, dan mata serta bibirnya
sepertiku,” kata Ayah sambil menyentuh pipiku.
“Umar, Ayahmu ini selalu menggagumu, dia tidak tau bahwa kamu ini sangat
kehausan,” Ibu kesal dengan Ayah.
“Istriku maafkanlah suamimu ini, rasa sayangku pada Umar membuatku tidak
bisa berpisah dengannya,” Ayah memberi sedikit alasan kepada Ibu.
“Suamiku, apa yang kamu inginkan ketika Umar dewasa nanti?” tanya Ibuku.
“Aku tidak menginginkan apa-apa darinya, aku hanya ingin Umar menjadi anak
yang baik, sebenarnya aku ingin Umar menjadi seorang ustadz yang selalu
menyiarkan agama dan membadi ilmunya kepada masyarakat di seluruh pelosok
daerah di Indonesia.” keinginan Ayah kepadaku.
“Aku setuju denganmu Suamiku, aku ingin Umar menjadi seorang ustadz dan
tauladan yang baik bagi masyarakat, namun biarlah Umar sendiri yang suatu saat
nanti memilih cita citanya, karena ia yang akan menjalaninya, kita tidah boleh
memaksakan kehendak kita pada Umar, yang terpenting kita harus mendidik Umar
dengan sebaik-baiknya,” harapan Ibu.
Setiap hari Ayah dan Ibu
selalu memberiku kasih sayang, mendidik dan membantuku dalam belajar. Ayah
menjadi kepala keluarga yang baik dan Ibu membina rumah tangga yang baik.
Dengan binaan kedua orang tuaku kini aku tumbuh menjadi seorang pemuda yang
tangguh, pemberani, disiplin, dan pantang menyerah. Aku adalah anak yang cerdas
bahkan kini aku menjadi seorang Ustadz dan tauladan yang baik bagi seluruh
masyarakat. Aku membela dan menyebarkan ilmu agama ke seluruh pelosok
Indonesia. Seperti Kakekku aku sangat kagum dengan sosok Raden Hadji Oemar Said
Tjokroaminoto, ketika kecil aku pernah bertanya kepada Ayah mengapa namaku
Raden Hadi Umar Wijaya, ternyata nama itu diambil dari sosok beliau, dan nama
itu adalah pemberian dari Kakekku sebelum meninggal. Sejak saat itu aku tau
bahwa Kakek meninggal bersamaan dengan hari dimana aku dilahirkan, aku pun tau
arti nama serta sebab Kakek memberiku nama tersebut.
“Ternyata Kakekku adalah seseorang yang sangat mengaggumi sosok HOS
Tjokroaminoto, karena beliau adalah seorang tokoh pahlawan yang memiliki kepribadian
yang baik, beliau adalah sosok guru yang dengan ikhlas mengajarkan
murid-muridnya dalam mecari ilmu, baik ilmu duniawi maupun ilmu agama, beliau
tidak pernah putus asa dalam kondisi apapun, dan dia menjadi tauladan yang baik
untuk murid-muridnya. Sebagian besar murid-murid beliau adalah pengukir sejarah
yang bersinar, bahkan ulama-ulama besar dan bapak bangsa adalah murid-murid yang
di didik oleh beliau. Kakekku sempat berguru dengan beliau ketika masih muda.
Kakekku dapat merebut lahan pertaniannya yang diambil alih oleh salah satu
orang belanda karena usul dan saran dari beliau, dengan menanamkan ajaran-ajaran
perlawanan, Kakekku melaksanakan setiap usul-usul beliau, hingga lahan pertanian
masyarakat terutama milik Kakek yang digunakan untuk mendapatkan penghasilan,”
Bathinku dalam hati.
Tiba tiba Ayah datang memasuki kamarku. Aku lantas mengajukan beberapa
pertanyaan dan menceritakan mimpiku semalam.
“Umar, apakah kamu sudah makan?” tanya Ayah kepadaku.
“Belum Yah, sebentar lagi aku akan makan,” jawabku.
“Baiklah, Ayah tunggu diluar ya Mar,” kata Ayah.
“Ayah tunggu, aku ingin bertanya dan bercerita,” aku menghentikan langkah
Ayah.
“Tentu Mar, Ayah akan mendengarkan cerita dan menjawab pertanyaanmu, lalu apa
yang ingin kamu ceritakan Mar?” tanya Ayah.
“Apakah Ayah masih memiliki foto Kakek, aku ingin melihat wajah Kakek?” tanyaku.
“Sebentar akan Ayah Ambilkan,”kata Ayah beranjak keluar kamar, dan mencari
foto kakek.
“Bagaimana Yah, apakah masih ada?” aku bertanya dan Ayah tiba tiba masuk.
“Ini adalah foto Kakekmu Mar,” kata Ayah sambil menunjukkan foto Kakek.
“Apakah ini benar-benar Kakek?” tanyaku.
“Iya itu Kakekmu Mar,” jawab Ayah.
“Jadi benar yang ada di mimpiku semalam adalah Kakek,” kataku kebingungan
dan kaget.
“Apa maksudmu Mar?” Tanya Ayah.
“Semalam aku bermimpi Yah, aku melihat Kakek menatapku kemudian berjalan
menjauh dan akupun mengejarnya hingga Kakek berhenti dan aku mendekatinya, Kakek
memegang tangan dan mengelus kepalaku sambil berkata “Setinggi-tinggi ilmu,
semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat,” jawabku dengan menceritakan
mimpiku semalam.
“Benarkah nak, Ayah bingung dengan arti mimpimu itu, sebelumnya kamu belum
pernah bertemu bahkan melihat wajah Kakekmu, baru saja kamu melihat fotonya,
namun bagaimana Kakek bisa ada dimimpimu Mar,” kata Ayah dengan bingung.
“Seingatku Yah, apa yang dikatakan Kakek dalam mimpiku semalam adalah kata
mutiara yang pernah disampaikan oleh HOS Tjokroaminoto,” kataku.
“Jadi itu adalah sebuah kata yang pernah disampaikan beliau, sepertinya Kakekmu
ingin memberikan ilmu, petunjuk, dan nasihat untukmu Mar, Ayah bisa
menyimpulkan mimpimu itu Mar, yang pertama Kakekmu memberi sebuah nasihat
untukmu, Kakekmu ingin kamu tidak pernah sombong walaupun sekarang kamu telah
menjadi seseorang yang cerdas janganlah kamu merasa dirimu lebih baik dari
orang lain, karena di hadapan Allah semua memiliki derajat yang sama, kecuali amal
ibadah dan kebaikannya. Setinggi-tingginya ilmu yang kamu miliki, itu semua
adalah karunia serta rizky yang Allah berikan, Ingatlah Mar di atas langit
masih ada langit. Pesan yang kedua, mungkin tanpa sepengetahuan Ayah, kamu
sedang memiliki masalah Mar, jikalau ada tolong katakan sejujur-jujurnya pada
Ayah Mar,” Ayah memberi sedikit kesimpulan tentang mimpiku.
“Terimakasih Yah, Insyaallah aku akan selalu melaksanakan semua nasihat
yang Ayah berikan, aku tidak akan pernah sombong, aku berjanji Yah,” janjiku
pada Ayah.
“Lalu apakah kamu memiliki masalah Mar, jujurlah pada Ayah,” paksa Ayah.
“Sebenarnya ada sedikit masalah yang mengganggu pikiranku, masalah itu
tentang konflik keagamaan yang terjadi di masyarakat sekitar rumah temanku
Yah,” jawabku.
“Jadi itu masalahnya Mar, kamu sekarang telah menjadi seorang Ustadz,
menurut pemikiranmu apa jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah itu, karena
setiap masalah pasti ada penyelesaiannya,” tanya Ayah kepadaku.
“Itu adalah kewajibanku Yah, aku harus bisa membantu menyelesaikan konflik
keagamaan tersebut, aku akan berusaha untuk mencari solusi untuk masalah ini
Yah,” jawabku pada Ayah.
“Baiklah nak, pikirkanlah, Ayah akan selalu berdoa untuk keselamatanmu dan
agar kamu dapat menyelesaikan semua masalah yang kamu hadapi,” sahut Ayah.
“Seperti Kakek, aku juga sangat kagum dengan sosok HOS Tjokroaminoto,
beliau pasti dengan bijak menyelesaikan masalah, mungkin beliaupun pernah
menyelesaikan masalah keagamaan, aku akan mengingat-ingat apa yang beliau
lakukan ketika mendapat masalah terutama masalah keagamaan,” kataku.
“Benar Umar, bukankah kamu pernah mempelajari dan mencaritahu tentang HOS
Tjokroaminoto karena kekagumanmu?” tanya Ayah.
“Iya Yah setelah aku ingat-ingat, aku mendapatkan solusinya, dalam
menangani konflik antaragama, jalan terbaik yang bisa aku lakukan adalah
mentautkan hati di antara umat beragama, mempererat persahabatan dengan saling
mengenal lebih jauh, serta menumbuhkan kembali kesadaran bahwa setiap agama
membawa misi kedamaian dan segala macam bentuk ketidakadilan struktural agama
harus dihilangkan atau dibuat seminim mungkin,” jawabku.
“Apakah itu tidak sulit untukmu Mar?” tanya Ayah.
“Tidak Ayah karena sesulit apapun suatu hal, apabila dijalani dengan ikhlas
pasti akan terasa lebih mudah,” jawabku.
“Lalu apa yang ingin kamu lakukan, apa kamu ingin menumbuhkan kesadaran
setiap orang dalam keagamaan, itu tidak mungkin Mar, ketika mereka tidak menyetujui
apa yang kamu katakan, kamu bisa menambah masalah diantara mereka Mar, dan
pastinya kamu akan mendapatkan permasalah baru,” kata Ayah.
“Insyaallah itu tidak akan terjadi padaku Yah, aku akan berusaha
sebaik-baiknya demi kerukunan antar umat beragama, aku akan mengadakan
pertemuan dan negosiasi bersama dengan mereka yang terkait pada konflik
keagamaan itu,” jawabku.
“Semoga semua berjalan dengan lancar, lalu kapan kamu akan mengadakan
pertemuan tersebut Mar?” tanya Ayah.
“Aku tidak akan menunda perbuatan yang baik, secepatnya aku akan
menginformasikan kepada mereka semua agar menghadiri pertemuan dan negosiasi
tersebut.” jawabku
“Hati-hati dengan semua yang kamu ucapkan Mar, jangan sampai kamu mengucapkan
sesuatu yang membuat mereka tersinggung dan sakit hati,” saran Ayah.
“Terimakasih atas saran yang Ayah berikan, Insyaallah aku akan menyaring
semua kata kata yang akan aku keluarkan, aku tidak ingin membuat seseorang
merasa tersinggung dan sakit hati walau hanya sekali,” ucapan terimakasihku pada
Ayah.
“Aku telah putuskan Ayah, bahwa setelah makan nanti aku akan segera
menginformasikan hal tersebut, dan akan mengadakan pertemuan itu besok pagi,” keputusanku.
“Ayah akan selalu mendukungmu Mar, baiklah ayo sekarang kita makan, Ibumu
telah menunggu dan menyiapkan makan untuk kita,” Sahut Ayah.
Aku dan Ayah segera menuju ke ruang makan dan disana terlihat Ibu sedang
menata meja dan menyiapkan makanan, Ayah memimpin doa kemudian kami menyantap
makanan yang lezat itu, kami bersyukur akan semua rizky yang Allah berikan
kepada keluarga kami. Setelah makan aku berpamitan pada kedua orang tuaku untuk
pergi menginformasikan bahwa pertemuan dan negosiasi tentang konflik keagamaan
akan dilaksanakan besok pagi.
Pagi telah tiba, kemarin aku telah menginformasikan kepada semua masyarakat
yang terkait konflik keagamaan tersebut. Di pagi hari yang cerah ini aku
berpamitan dan meminta restu pada orang tuaku.
“Ayah, Ibu, Umar pamit untuk menghadiri pertemuan dan negosiasi masalah keagamaan,
Umar meminta doa restu Ayah dan Ibu agar umar secepatnya bisa menyelesaikan
masalah ini, doa restu Ayah dan Ibu pasti akan menjadi sebuah hal yang membuat
Umar semakin bersemangat untuk menyelesaikan masalah ini, doa itu akan sangat
bermanfaat bagi Umar,” kata pamitku pada Ayah dan Ibu.
“Ayah dan Ibu merestuimu Mar, doa kami akan mengiringi setiap langkahmu,
hati hati di jalan Mar semoga kamu selamat hingga tujuan dan dimudahkan dalam
menyelesaikan masalah ini,” doa Ayah dan Ibu kepadaku.
“Terimakasih Ayah Ibu, semoga doa restu Ayah dan Ibu dikabulkan oleh Allah
SWT,” Ucapan terimakasihku.
Aku segera pergi menuju tempat pertemuan yang telah ditentukan,
sesampainnya disana terlihat semua masyarakat menghadiri pertemuan, mereka
terlihat saling menghujat antara agama yang satu dengan agama lainnya, namun
Alhamdullilah aku bisa menenangkan mereka, rapat dimulai dan aku menyampaikan
keputusan yang telah aku pikirkan semalam, sempat ada beberapa golongan yang
tidak menyetujui apa yang aku katakan, aku memberi penjelasan kepada mereka dan
sedikit bernegosiasi hingga mereka semua menyetujui apa yang aku katakan,
Akhirnya masalah inipun terselesaikan, mereka berjanji bahwa konflik seperti
ini tidak akan terjadi lagi karena ini hanyalah sebuah kesalahpahaman yang
seharusnya tidak dibesarkan, mereka juga berjanji akan menciptakan kedamaian
dan kerukunan antar umat beragama. Aku sangat bersyukur pada Allah SWT, dan aku
berterimakasih atas doa restu Ayah dan Ibu ketika aku sampai dirumah.