Selasa, 22 Desember 2015

Puisi Laila Nur Auliani yang Berjudul Kemuliaan Kasih Sang Ibu



Kemuliaan Kasih Sang Ibu
Ku termenung di malam yang kian hening  
Merenungkan kemuliaan setiap kebaikan seorang Ibu
Ku lihat alam semesta ini
Rembulan malam mampu menghapus putus asa dalam dirimu
Mentari dan sinarnya mampu menutupi segala kesedihanmu
Dan bintang-bintang memancarkan sinarnya dari langit
Mengingatkanku akan dirimu, Ibu
Ketika aku tumbuh di dalam rahimmu hingga engkau lahirkan
Itulah pertama kaliku melihat dunia ini
Di dalam pelukan dan kasih sayangmu, Ibu
                  Waktu terus berlalu...
                  Di setiap nafasku hanya ada dirimu, Ibu
                  Karena kau selalu menuntun dan menerangi setiap langkahku
                  Tasbihmu terucap hanya tuk namaku
                  Sujudmu kau curahkan atas namaku
                  Dan doamu selalu mengiringiku
                  Menjadikan langkahku sangatlah ringan
                  Dan perjananku semakin mudah
                  Semua itu, mendamaikan jiwaku tuk menapak dunia
          Kau malaikat jiwaku, yang bersedia berkorban untukku
          Di dalam pandangan mata, hati dan jiwaku
          Aku hanya ingin selalu melihat senyummu, Ibu
          Maafkan aku yang selama ini selalu menyakitimu, Ibu
          Aku akan selalu menyayangimu
          Walau aku tak bisa membalas semua jasamu, Ibu

Sabtu, 10 Oktober 2015

Cerpen Laila Nur Auliani yang Berjudul Pertemuan Dua Sahabat di Amerika Serikat


Pertemuan Dua Sahabat di Amerika Serikat
Karya : Laila Nur Auliani 
Sumber Gambar : https://merrylah.files.wordpress.com/2008/11/us-ma-cambridge-harvard-university-red-brick-building-sunshine-grass-lawn-students-1-ajhd.jpg


Di Monumen Lincoln, Amerika Serikat sangatlah ramai, banyak masyarakat disana yang menghabiskan malamnya untuk menonton kembang api, aku ikut bergabung di tengah keramaian tersebut. Disana memanglah ramai dan penuh kebahagiaan, namun aku merasa ada yang kurang dengan suasana ini, aku mengenang kebahagiaan maupun kebersamaan dengan keluargaku di Indonesia, tapi terpaksa aku harus meninggalkan mereka, karena mencari ilmu di dunia adalah cita-citaku sejak kecil. Namun aku merasa bahwa bukan hanya rindu pada keluargaku, namun ada seseorang yang mengganjal hatiku, aku merindukannya namu aku tidak tau pasti siapa yang sangat aku rindukan itu. Setelah menonton kembang api, aku kembali ke Hotel Commonwealth Court . Sesampainya di Hotel tersebut, aku membuka cendela, dan duduk di sofa sambil mengerjakan tugas. Ketika belajar aku sempat melihat langit, saat ini langit dipenuhi oleh bintang-bintang, aku melihat 2 bintang yang bersinar sangat terang daripada bintang bintang lainnya. Bintang-bintang tersebut membuatku mengingat masa laluku, pancaran sinar kedua bintang tersebut mengingatkan pada sahabatku Suci.
“ Kedua bintang itu sangatlah indah seperti kisah persahabatanku dengan Suci yang telah berlangsung selama 12 tahun, bintang itu telah menjawab pertanyaanku, ternyata seseorang yang mengganjal dihatiku adalah sahabatku yang selalu ada dalam suka maupun duka dan menghiasi hari-hariku, namun saat ini aku telah berpisah dengannya, berat rasanya perberpisahan ini,” batinku dalam hati.
Aku mengingat semua masa laluku dengan sahabatku Suci, kami tandai awal perhabatan kita di sebuah pohon yang besar, di batang pohon itu kami tulis, “ Laila dan Suci, bersahabat tuk selamanya, 17 Januari 2009.” Aku mengingat bagaimana kebersamaan kita, kami saling bercerita, tertawa, bersenang-senang, bermain, berjalan-jalan, membuat kerajinan, dan mengelilingi Indonesia, untuk memperdalam budaya dan mencari tahu lebih dalam kekayaan maupun keindahan alam tanah kelahiran kita, Indonesia.
“Oh Iya...aku masih menyimpan foto-foto persahabatanku dengan Suci ketika berkeliling Indonesia, namun aku lupa dimana aku menyimpan foto itu?” Kataku, sambil mencari album foto di lemari.
Ketika aku sedang mencari album foto persahabatanku itu, tiba-tiba temanku datang dan mengetuk pintu.
“Tok...tok...tok...” ada seseorang yang mengetuk pintu.
“Iya sebentar, siapa, ada perlu apa?” tanyaku.
“Laila, ini saya Shirley, saya ingin memintamu untuk membantu saya belajar, saya mengalami kesulitan,” jawab temanku Shirley.
“Silahkan masuk Shirley, pintu tidak dikunci,” tawarku.
“Baiklah Laila,” jawabnya dengan membuka pintu.
“Kamu sedang apa Laila?” tanya Shirley.
“Aha...akhirnya ketemu juga, ini Shirley yang sedang aku cari, ini adalah fotoku bersama sahabatku Suci, ketika kami sedang mengelilingi Indonesia,” jawabku dengan senang.
“Apa! fotomu ketika mengelilingi Indonesia, coba saya ingin melihatnya, bagaimana negara kelahiranmu itu, aku sangat penasaran,” Shirley terkejut dan ingin melihat fotoku.
“Ini kalau kamu memang benar-benar penasaran dengan Indonesia,” kataku sambil memberikan foto-fotoku.
“Jadi ini Indonesia, indah sekali, bahkan pemandangannya sangat menakjubkan, di mana saja ini terutama kelima air terjun ini, coba katakan tempatmu berfoto dengan sahabatmu itu?” tanya Shirley sambil menunjuk fotoku dan Suci di bawah Air Terjun.
“Jangan berlebihan, karena selain Indonesia masih ada negara lain yang lebih indah, walaupun dalam diriku aku hanya mencintai Indonesia, 5 foto air terjun ini adalah contoh air tenjun yang indah di Indonesia yang pertama adalah air terjun 2 warna dan yang kedua adalah air terjun mursala di Sumatra Utara, yang ketiga adalah air terjun Sendang Gile di Lombok, yang keempat adalah air terjun Benang Kelambu di NTB, yang kelima ini adalah air terjun Sipiso-piso, sedangkan foto-fotoku lainnya itu adalah pemandangan-pemandangan yang tersebar di Indonesia,” kataku sambil menunjuk foto.
“Jadi kamu suka mengelilingi Indonesia Laila? Aku ingin wisata di Indonesia, Laila kapan-kapan maukah kamu mengajakku berkeliling Indonesia?” tanya Shirley.
“Baiklah kapan-kapan aku akan mengajakmu berkeliling di Indonesia, ohh iya...bukannya kamu tadi ingin kubantu dalam belajar Shirley?” tanyaku.
“Maaf...maaf...aku jadi lupa akan hal itu, tapi sepertinya kamu sedang sedih Laila?” tanya Shirley kepadaku.
“Aku hanya sedih karena mengingat kenanganku bersama dengan sahabatku di masa lalu,” jawabku.
“Laila coba ceritakan padaku kisah persahabatanmu itu?” tanya Shirley lagi.
“Besok saja aku mencaritakan kisah persahabatanku itu, lebih baik kita mengerjakan tugas terlebih dahulu,” paksaku.
“Baiklah, aku akan menunggu ceritamu,” kata Shirley kepadaku.
Aku dan Shirley mulai mengerjakan tugas bersama-sama, hingga akhirnya tugas kami selesai dan Shirley kembali pulang kerumahnya, setelah itupun aku segera tidur.
            “Kring...kring...kring,” suara alarmku berdering, aku mematikannya, karena hari ini adalah hari libur, rencananya aku akan berkeliling Amerika Serikat, memang setiap hari Minggu aku selalu menggunakan waktuku untuk berkeliling Amerika Serikat, aku ingin lebih dalam memahami seluk beluk negara ini.
“Rasanya kurang seru bila tidak mengundang teman-teman untuk iku berkeliling Amerika Serikat, aku ingin mengundang Shirley, Louella, Claudette, Millicent, dan Gabrielle,” batinku.
Aku menghubungi kelima temanku yaitu Shirley, Louella, Claudette, Millicent, dan Gabrielle untuk menawarkan mereka berkeliling. Teman-teman setuju atas tawaranku, kecuali Claudette karena ia ingin ke luar kota. Kami sepakat untuk berkumpul terlebih dahulu di Washington Monument. Setelah bersiap-siap aku segera menuju ke Washington Monument, dan sesampainya disana kami berkumpul dan memulai perjalanan di Washington. Indahnya pemandangan disana, tumbuhan tertata rapi, airnya berwarna biru serta jernih, dan kami berfoto di bawah langit biru yang membuat pemandangan semakin menakjubkan. Ketika aku memegang kamera dan memfoto Louella dan Millicent, aku tidak fokus memfoto kedua sahabat itu karena justru aku membayangkan bahwa mereka adalah aku dan Sahabatku Suci yang sedang berfoto di bawah Monumen Nasional, Indonesia, padahal Louella dan Millicent sedang berpose dengan anggunnya namun aku tidak segera memencet tombol potret.
“Laila.....Ada apa denganmu, mengapa kamu melamun, apa yang kau bayangkan?” tanya Louella mendekatiku sambil mengibas-kibaskan tangan di depan wajahku.
“Apa...apa...apa...ada apa,” aku terkejut.
“Apa yang kamu pikirkan Laila,” tanya Shirley kepadaku.
“Iya Laila apa yang kamu bayangkan,” tanya Gabrielle kepadaku
“Maafkan aku aku telah mebuatmu terkejut Laila,” permintaan maaf Louella kepadaku.
“Aku tidak apa-apa, aku hanya iri dengan persahabatanmu Louella dengan Millicent, aku teringat dengan sahabatku yang ada di Indonesia, kisah-kisah yang kalian berdua alami sama seperti apa yang biasa aku lakukan dengan Suci, sahabatku, ketika aku melihat kebersamaan persahabatan kalian berdua aku justru melihat diriku sendiri dan sahabatku di Indonesia, 5 tahun kami tidak bertemu, walaupun kami masih berhubungan melalui media sosial, terakhir bertemu sejak aku lulus dari SMP, sejak malam aku selalu memikirkannya,” jawabku.
“Bersabarlah Laila, kau membuatku sedih, sebenarnya di Singapura akupun memiliki 2 sahabat namanya Rachel dan Mitchie Ling, aku terpaksa untuk mengakhiri persahabatan kami sesudah aku  mendapatkan informasi beasiswa, sebenarnya informasi itu ada 1 tahun sebelum aku dikirim ke Amerika, aku mengakhiri persahabatanku tanpa mengatakan alasanku ini, sebenarnya aku masih menyayangi mereka tapi aku terpaksa melakukan ini untuk menghindari perpisahan yang menyakitkan,” cerita Gabrielle.
“Jadi kalian sedih karena sahabat, kalau aku sedih karena harus berpisah dengan orang tua,” kata Shirley.
“Itu pasti...Shirley, Shirley, kamu aneh aneh saja,” bentakku, Louella, Millicent, dan Gabrielle secara bersamaan.
“Hehehe...maaf-maaf, ya udah deh sebagai permintaan maafku aku traktir kalian makan di Old Ebbitt Grill,” permintaan maaf Shirley kepadaku dan teman-teman.
“Benarkah Shirley, gitu dong, perut kita kan sudah kelaparan sejak tadi, berkeliling Washington itukan butuh banyak tenaga,” kataku.
Setelah kami makan kami melanjutkan berkeliling ke berbagai monumen sejarah, dan berfoto foto sambil bersenang-senang terutama di bawah Patung Liberty. Karena mulai sore, kami mengakhiri perjalanan pada hari ini, agar sisa waktu hari ini dapat kami gunakan untuk mengerjakan tugas, untuk itu kami beristirahat sebentar kemudian pulang kerumah masing-masing. Sesampainya aku di rumah aku segera menyelesaikan tugas dan laporan, malamnya aku ingin tidur, namun dalam hatiku masih ada bayang-bayang sahabatku Suci sehingga rasanya sulit memejamkan mata, hari semakin malam karena aku sedih dan tidak bisa tidur aku mengambil air wudhu, air wudhu itu menenangkan hatiku sehingga sekarang aku dapat tidur.
                    “Kring...kring...kring,” suara alarmku berdering, aku terbangun dari tidurku, kemudian aku mengerjakan Sholat sunah tahajud.
“Ya Allah, aku sangat merindukan orang tuaku berilah kesehatan dan keselamatan untuk mereka, selain mereka aku memohon pada-Mu ya Allah, aku sangat merindukan sahabatku Suci, aku  ingin bersamanya kembali seperti dulu, membina kebersamaan dan pertemanan dengan baik, aku mohon pertemukanlah hamba dengannya suatu saat nanti Ya Allah,” doaku ketika selesai sholat tahajud.
Setelah sholat aku mebuka buku-bukuku dan mengulangi pelajaran yang diajarkan minggu lalu, kemudian aku mandi dan bersiap-siap ke Harvard University. Setelah siap, aku segera menuju University, sesampainya disana kami semua memulai belajar. Akhirnya pelajaran telah usai, semua mahasiswa meninggalkan ruangan, sebelum pulang aku singgah terlebih dahulu untuk beristirahat di sebuah kursi bawah pohon yang rindang di taman University yang seju dan indah itu. Disana aku membayangkan sedang bercerita dengan Sahabatku Suci dibawah pohon beralaskan rumput rumput yang hijau dan duduk dengan kebahagiaan, ketika ku terbangun dari bayang bayangku itu ternyata kenyataannya aku hanya duduk di tempat yang sepi itu karena sebagian dari teman teman telah pulang lebih dahulu. Aku sangat sangat kesepian aku menginginkan sosok seorang sahabat, tiba tiba ada seseorang yang menggunakan kameranya untuk memfoto taman ini.
“Ckrik...ckrik...ckrik,” suara kamera orang itu dengan melihat suasana taman itu, dia berkata “Indah sekali taman ini, aku senang mendapat beasiswa di University ini, rasanya aku ingin segera masuk.”
“Sepertinya dia mahasiswa baru di sini, namun dari mata dan penampilannya sepertinya dia masyarakat Indonesia dan aku merasa wajahnya tidak asing, mungkin dia mendapat beasiswa sepertiku,” kataku.
Tanpa sengaja dia mengarahkan kameranya ke arahku kemudian memfotoku dan pemandangan taman dibelakangku.
“Ckrik...ckrik...ckrikk,” tiba tiba dia sadar bahwa dia telah memfoto seseorang”Mbak maaf...maaf, saya tidak sengaja memfoto mbak,” maafnya.
“Kamu! Suci kan bagaimana kamu bisa ada di sini?” tanyaku terkejut.
“Laila, akhirnya kita bisa bertemu, aku rindu denganmu, aku telah berkeliling Indonesia tanpamu rasanya sangat menyedihkan, aku disini karena mendapat tugas mempelajari berbagai budaya di dunia, yang pertama dan kedua aku ditugaskan untuk mencari tahu kebudayaan dan keindahan-keindahan di Prancis, dan Australia, lalu tujuanku yang terakhir adalah mencari tahu hal tersebut di Amerika Serikat ini, dan disini aku mendapat beasiswa untuk belajar Harvard Graduate School of Design, karena selain budaya aku ditugaskan untuk mempelajari seni desain di University ini,” Jawab Suci dengan rasa senang.
“Aku turut senang dengan kehadiranmu disini, akhirnya doaku selama ini dikabulkan oleh Allah, tak hanya kamu yang merindukanku tapi akupun sangat merindukanmu, setiap hari yang aku pikirkan hanyalah kenangan kenangan persahabatan kita,” kataku.
Aku dan sahabatku Suci berpelukan dengan erat, akupun terharu dan meneteskan air mata, bahkan Sucipun ikut menangis hingga membasahi pundakku, setelah itu kami menghapus air mata kami, kemudian aku mengantarkan Suci mengajukan beasiswa. Usai Suci mengajukan beasiswa kami pun beristirahat sebentar dan mulai berkeliling Amerika Serikat sambil bercerita.
“Laila, maukah kamu membantuku mencari foto foto di berbagai daerah dan bermacam macam pemandangan di Amerika ini, untuk menyelesaikan tugas tugasku?” tanya Suci.
“Tentu aku mau, aku sangat senang dapat melihat berbagai pemandangan yang indah, rasanya seperti apa yang kita lakukan di Indonesia dulu, kita berfoto di berbagai keindahan alam semesta ini,” jawabku dengan sangat gembira.
“ Terimakasih Laila, untuk tujuan kita yang pertama kita aku pergi ke embah grand canyon, telang kita tidak mendaki, kita hanya berfoto dibawah,” ajak Suci.
“Baiklah, mari kita ke lembah grand canyon,” kataku.

Aku dan Suci segera pergi ke lembah grand canyon, sesampainya disana kamiberfoto foto.
“Cantiknya, lembah itu warnanya orange, baru pertama kali aku melihat secara langsung lembah ini,” puji Suci tehadap lembah itu.
“Akupun takjub sepertimu,” sahutku.
“ Tujuan kita kedua adalah ke air terjun Tumalo, aku benar benar penasaran dengan air terjun itu,” ajak Suci.
“ Iya akupun ingin melihat air terjun itu secara langsung,” jawabku.
Kami mulai berangkat menuju air terjun tumalo itu, sesampainya disana kami berfoto, di bawah keindahan air terjun itu.
“Suci, indah sekali air terjun ini, aku tidak menyesal datang kesini, bahkan rasanya aku ingin setiap hari bermain air di sini,” kataku dengan takjub.
“Iya, indah sekali Laila, bahkan keindahannya melebihi dari foto yang aku dapatkan melalui internet, airnya jenih, dan bunga bunga ini menghiasi tebing air tenjun,” sahut Suci.
Kami berfoto di Air terjun ini, banyak foto yang kami dapatkan.
“Untuk mengakhiri perjalanan kita hari ini, tujuan kita yang ketiga adalah  Perbukitan Palouse disana kita bisa melihat lahan hijau yang sangat luas, dan angin yang segar waaupun sedikit panas,” ajak Suci.
“Sebenarnya aku telah merasa lelah, namun akupun ingin menemanimu dan merasakan kindahan alam ini,” jawabku.
“kalau memang kau sudah lelah, lebih baik kita akhiri perjalanan hari ini,” kata Suci.
“Lebih baik kita teruskan, tohh  Perbukitan Palouse tidak begitu jauh,” kataku.
Kami segera meneruskan perjalanan ke tujuan kita yang terakhir di Perbukitan Palouse, sesampainya disana kami menggelar tikar dan berfoto disana terlihat memang panas namun kehijauannya terbentang sangat luas.
“Sejuk sekali, namun kesejukan ini terkurangi oleh pasasnya matahari,” kataku.
“Iya kamu benar laila, lahan hijau yang membentang ini memang indah, tapi sepertinya jarang sekali ada rumah di daerah ini, lihat itu terlihat hanya ada sebuah rumah jauh di depan sana,” kata Suci sambil menunjuk sebuah rumah itu dengan jarinya.
Setelah lama berbincang bincang di bukit itu mengenai kenangan-kenangan kita di masa lalu dan pengalaman-pengalaman yang kami dapatkan semenjak kami berpisah. Setelah berbincang kamipun bergegas pulang, ketika di tengah perjalanan kami lapar, sehingga kami harus singgah terlebih dahulu di sebuah restaurant.
“Kamu lapar yaaa, aku juga lapar bagaimana bila kita makan dahulu sebelum pulang?” tanyaku.
“Sebenarnya aku memang lapar, tapi aku tidak suka dengan masakan di sini,” jawabnya.
“Jangan khawatir awalnya aku juga tidak suka makanan di sini, jadi pertama kali disini, setiap harinya aku makan di Indonesia Restaurant, disana ada gado-gado,nasi padang, nasi goreng, dll,” kataku.
“Benarkah, ya sudah kalau begitu aku ingin makan di restaurant itu,” kata Suci terkejut.
Sesampainya disana kami berbincang-bincang.
“Laila makanan disini enak uga, rasanya seperti makanan asli Indonesia,” puji Suci.
“Memang lezat, tapi pemilik restaurant ini benar-benar orang Amerika lho, ohh iya kamu tinggal dimana saat ini?”tanyaku.
“Aku belum sempat mencari apartement atau hotel di sini,” jawab Suci.
“Ya sudah setelah makan, kamu sementara menginap di Hotel Commonwealth Court, tempatku tinggal,” tawarku.
“Terimakasih Laila, kamu memang sahabat terbaikku,” ucapan terimakasih Suci kepadaku.
Setelah selesai makan, kami pulang menuju ke tempat tinggalku di Hotel Commonwealth Court, Suci ikut bersamaku untuk menginap sementara, sesampainya disana kami segera tidur.
“Selamat tidur Laila, kita akhiri hari kita ini, kita teruskan perjalanan kita mengelilingi Amerika Serikat besok,” kata Suci.
“Malam Sahabatku, kemanapun kita pergi aku akan selalu bahagia bersamamu,” kataku.
Aku dan Sucipun tertidur, kami mengakhiri hari ini dengan kebahagiaan, hari hari selanjutnya kami akan memulai persahabatan kita di Amerika ini, kami akan selalu menjadi sahabat yang baik dan saling menyemangati satu dengan yang lain.

Cerpen Laila Nur Auliani yang Berjudul Seruan Sosok Keluarga Inspirasi


Seruan Sosok Keluarga Inspirasi
Karya : Laila Nur Auliani


          Namaku adalah Raden Hadi Umar Wijaya, nama itu adalah pemberian dari Kakekku sebagai pesan sebelum Kakekku meninggal. Pada tanggal 15 Agustus tahun 1980, hari itu adalah malam dimana aku dilahirkan, bersamaan dengan hari kelahiranku, di tempat yang berbeda Kakekku mengalami serangan jantung karena tekanan darah yang tinggi dan terbebani oleh beberapa masalah. Pada saat itu Kakekku sedang bersama Ayahku, sehingga Ayahku membawa Kakekku ke rumah sakit yang sama dimana aku dilahirkan. Sebelum Kakekku meninggal ia sempat mencium keningku dan memberiku sebuah nama yang memiliki arti sangat indah, Kakekku berpesan kepada Ayahku agar menjaga dan mendidikku hingga aku dewasa, dan menjadi pribadi yang baik agar siap memajukan bangsa dan negara dengan mendasarkan agama.
“ Cucuku, Kakek ingin ketika dewasa nanti kamu menjadi putra bangsa yang akan menjadikan Indonesia ini semakin jaya dan semakin maju, menjadi seseorang yang taat beragama sebagai muslim sejati, berbakti kepada orang tua, memiliki keberanian terutama untuk membela negara dan melindungi agama Islam, serta tak pantang menyerah ataupun putus asa dalam kondisi apapun, seperti arti dari nama yang Kakek berikan untukmu Cucuku, Kakek ingin kamu memiliki kepribadian seperti yang dicontohkan oleh Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto,” Kakek mengatakannya dengan suara yang sesak.
Untuk yang kedua kalinya, sebelum Kakekku meninggal ia mencium keningku kembali, dan pada saat itu tampak aku sedang tersenyum, sesudah Kakekku mencium keningku ia pun langsung menutup matanya yang menandakan ia sudah meninggal, dengan seketika saat itu aku langsung menangis hingga membangunkan Ibuku yang sedang tidur setelah melahirkanku. Suster dan Dokter melepas alat medis yang digunakan Kakek, lalu Ayah membawaku ke kamar, dan aku pun terdiam dari tangisku ketika dipangkuan Ibu.
“Suamiku, bagaimana dengan keadaan Ayah ?” tanya Ibu karena belum mengetahui keadaan yang sebenarnya.
“Ayah telah meninggalkan kita semua untuk selamanya,” jawab Ayah dengan jujur.
“Inallilahi Wainalililahi Rojiun, Ayah sudah meninggal!” Ibu mulai meneteskan air mata.
“Istriku, jangan menangis ikhlaskan saja agar Ayahmu bisa tenang di sana,” Ayah berusaha menenangkan Ibu.
“Baiklah Suamiku, tapi semua kenangan-kenangan dan kasih sayang Ayah kepadaku tidak akan pernah aku lupakan, betapa sayangnnya aku dengan Ayah karena dia adalah seseorang yang kuat dan tegar, ia mendidikku dengan baik walau Ibuku sudah meninggal sejak aku dilahirkan, ia menanamkan perilaku yang baik untukku sejak aku kecil hingga kini aku telah menjadi seorang Ibu dan Istri yang baik, ” jawab Ibu.
“Sebagai Suamimu aku pun bangga memiliki Istri sepertimu, kau adalah Istri yang baik, rajin, mandiri, taat pada agama dan pada suamimu ini,” ucapan Ayah karena bangga pada Ibu.
“Itu adalah kewajibanku sebagai seorang Istri, aku akan selalu menjadi Istri yang baik untukmu, serta akan selalu setia kepadamu, seperti apa yang telah Ayah dan Ibu ajarkan kepadaku, Ayah tidak pernah menginginkan pernikahan yang kedua kalinya, karena hanya ingin mendidikku agar aku menjadi anak yang berguna dan berbakti kepadanya,” jawab Ibu.
“Insyaallah, aku akan setia sebagai Suamimu, aku akan berusaha agar bisa menjadi imam yang baik untuk keluarga kita dan menjadi tauladan yang baik untuk seluruh anggota keluarga terutama anak kita,” janji Ayah pada Ibu dan keluarga.
“Semoga doa-doa kita dapat dikabulkan oleh Allah SWT, sebelumnya apakah Ayah sempat memberi pesan-pesan terakhir untuk kita?” Ibu bertanya.
“Sebelum Ayah meninggal, Ayah sempat memberikan sebuah nama yang indah untuk anak kita,” jawab Ayah.
“Coba katakan Suamiku, apa nama yang Ayah berikan untuk anak kita?” Ibu mulai penasaran.
“Raden Hadi Umar Wijaya, itulah nama yang Ayah berikan untuk anak kita,” jawab Ayah.
“Nama yang bagus, mungkin Ayahku memberi nama itu karena Ayah ingin anak kita memiliki sifat yang baik seperti sosok Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, dulu Ayah pernah bercerita padaku ketika jaman penjajahan, saat Ayahku masih kecil ia sering kali bertanya tentang agama dan dekat sekali dengan sosok beliau,” Ibuku berkomentar dan menambahkan sedikit cerita.
“Kamu benar Istriku, itulah alasan Ayah memberikan nama itu untuk anak kita, namun Ayah juga berpesan agar kita dapat menjaga serta membesarkan anak kita hingga ia dewasa dan menanamkan ilmu Agama agar anak kita berguna bagi bangsa, negara, maupun agamannya,” Ayah memberitahukan pesan yang kedua.
“Lalu, apa panggilan yang cocok untuk anak kita?” tanya Ibu.
“Raden, Umar, atau Jaya, hmmm...menurutmu mana yang bagus Istriku?” Ayah sedikit bingung.
“Bagaimana, kita panggil Umar saja, karena nama itu adalah nama asli dari HOS Tjokroaminoto,” Ibu memberi sedikit usul.
“Ide yang bagus Istriku, baiklah kita panggil anak kita dengan sebutan Umar,” Ayah setuju dengan usul Ibu.
Saat Ayah dan Ibu sedang berbincang bincang aku pun terbagun kemudian menangis dan merengek di box bayi.
“Sepertinya suara kita membangunkan Umar, sehingga ia terbangun,” kata Ibu.
“Tidak Istriku, sepertinya Umar ingin ikut berbincang bincang dengan kita,” canda Ayah.
“Jangan Bercanda suamiku, ini bukan waktu yang tepat,” Ibu kesal.
“Siapa yang bilang kalau aku bercanda, aku tidak bercanda, tadi ketika Ayah mencium kening Umar, dia tersenyum, ketika Ayah memejamkan mata, Umar menangis, sepertinya ia sudah dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang disekitarnya,” Ayah memberi sedikt penjelasan.
“Benarkah, Umar memang anak yang hebat Suamiku, aku yakin ketika ia dewasa nanti Umar akan menjadi orang yang hebat, dan akan mengangkat derajat kita sebagai orang tuanya,” kebanggaan Ibu terhadapku.
Ibu menggendong dan menyanyikanku lagu tidur, agar aku berhenti menangis. Setelah aku berhenti menangis dan mulai tertidur, Ibu menaruhku kembali ke box dan memerintah Ayah agar segera tidur, karena esok hari adalah pemakaman Kakek.
              Setelah tidur, pagi-pagi Ibu dan Ayah telah berkemas-kemas untuk segera pulang ke rumah, dan meninggalkan rumah sakit. Sampai di rumah banyak masyarakat yang sedang tahlilan dan berdoa untuk Kakekku, terlihat banyak masyarakat yang turut sedih berduka cita atas kematian Kakekku, menurut mereka Kakekku adalah seorang tauladan bagi mereka, Kakekku dihormati dan disegani oleh seluruh masyarakat, Kakekku adalah seorang pahlawan yang dulu ketika ia masih muda ikut memperjuangkan bangsa Indonesia agar mengalahkan para penjajah dan kolonial yang mengganggu ketenangan rakyat yang membuat rakyat sengasara. Kakekku tak pernah kenal lelah dalam merebut bangsa Indonesia dari penjajah yang seenaknya memanfaatkan tanah Indonesia yang tercinta ini, Kakekku selalu mengikuti organisasi-organisasi yang memiliki tujuan baik, bahkan hampir seluruh organisasi Indonesia Kakekku ikuti, Kakekku mengenal sosok HOS Tjokroaminoto sejak kecil, ketika dewasa ia pun ikut serta pada organisasi syariat dagang Islam yang dibentuk oleh beliau, Kakekku gemar sekali mempelajari berbagai bidang, sehingga Kakekku sangat cerdas, semua permasalahan baik pribadi maupun permasalahan masyarakat, dapat terselesaikan dengan semua usul-usul yang Kakekku berikan, bahkan semua usul tersebut tidak menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat, sehingga ketika Kakekku memberikan sebuah usul pasti masyarakat menyetujuinnya.
“Ketika membaca ayat suci Al-Quran untuk mendoakan Ayah, banyak masyarakat yang meneteskan air mata, mereka tidak ingin kehilangan orang yang selalu mereka hormati, dan mereka bersedia seharian mendoakan Ayah dengan ayat suci Al-Quran di tempat ini dengan wajah yang dibasahi air mata,” kata Ibuku, yang mulai menangis.
“Benar Istriku karena Ayah adalah tauladan bagi kita dan seluruh orang di sekitarnya,” Ayah membenarkan apa yang dikatakan Ibu.
“ Aku sangat menyayangi Ayah, aku selalu bermain dan bersamanya setiap waktu, 1 jam saja kami berpisah rasanya 1000 tahun telah berlalu, bahkan ketika sekolah saja aku selalu mengingatnya, Ayah selalu membantuku dalam belajar, sehingga aku menjadi anak yang pandai dan menjadi sarjana dengan nilai terbaik.” ucap Ibuku.
“Aku berharap kamu seperti Ayah, kamu dapat membantu Umar dalam belajar hingga ia menjadi anak yang cerdas seperti kamu dan Kakeknya,” harapan Ayah.
“Tentu Suamiku, aku akan mengajarkan semua ilmu yang aku miliki untuk Umar baik ilmu agama maupun ilmu duniawi, aku ingin kita semua nantinya dapat berkumpul di surga terutama bersama Ayah dan Ibu,” jawaban dan doa Ibu untuk seluruh anggota keluarga.
“Baiklah Istriku, aku akan menyiapkan pemakaman Ayah sekarang, janganlah menangis, Insyaallah suatu saat nanti kita dapat berkumpul di Surga,” kata Ayah sambil menghapus air mata Ibu.
“Silahkan suamiku, aku juga akan bersiap-siap untuk ikut kepemakaman Ayah,” Ibu mempersilahkan Ayah untuk menyiapkan pemakaman.
Ibu mencium tangan Ayah, lalu Ayah segera menyiapkan keranda dan segala sesuatu untuk pemakaman Kakekku. Akhirnya Kakekku sudah dimakamkan. Semua orang pergi meninggalkan kuburan, dan tinggalah disana Ayah dan Ibu yang menaburkan bunga di makam Kakek.
“Ayah, aku akan selalu berdoa untuk Ayah, agar Ayah diterima di sisi Allah dan diterima amal ibadah yang Ayah lakukan selama di dunia ini,” Ibu berdoa untuk Ayah di pemakaman.
“Ayah, aku sebagai seorang Suami berjanji untuk menjaga Istri dan anakku, sesuai dengan pesan Ayah, aku akan mendidik dan membesarkan Umar agar menjadi seseorang yang baik seperti apa yang telah Ayah contohkan di dalam keluarga kami,” Janji Ayah kepada kakek.
Ibu dan Ayah meninggalkan kuburan Kakek dan pulang ke rumah. Sesampai di rumah Ibu mandi kemudian menggendong dan menyusuiku.
 “Anakku Kakekmu telah meninggal, namun setidaknya Kakek bisa melihatmu untuk yang terakhir kali, jika tidak pasti Ibu akan merasakan kesedihan yang amat dalam dan kecewa pada diriku sendiri, namun Allah berkata lain, Allah sempat mempertemukanmu dengan Kakekmu dalam detik detik terakhir,” kata Ibuku.
Tiba tiba Ayah datang, “Lucu sekali anak kita ini Istriku, wajahnya seperti Kakeknya di masa muda, hidungnya mancung sepertimu, dan mata serta bibirnya sepertiku,” kata Ayah sambil menyentuh pipiku.
“Umar, Ayahmu ini selalu menggagumu, dia tidak tau bahwa kamu ini sangat kehausan,” Ibu kesal dengan Ayah.
“Istriku maafkanlah suamimu ini, rasa sayangku pada Umar membuatku tidak bisa berpisah dengannya,” Ayah memberi sedikit alasan kepada Ibu.
“Suamiku, apa yang kamu inginkan ketika Umar dewasa nanti?” tanya Ibuku.
“Aku tidak menginginkan apa-apa darinya, aku hanya ingin Umar menjadi anak yang baik, sebenarnya aku ingin Umar menjadi seorang ustadz yang selalu menyiarkan agama dan membadi ilmunya kepada masyarakat di seluruh pelosok daerah di Indonesia.” keinginan Ayah kepadaku.
“Aku setuju denganmu Suamiku, aku ingin Umar menjadi seorang ustadz dan tauladan yang baik bagi masyarakat, namun biarlah Umar sendiri yang suatu saat nanti memilih cita citanya, karena ia yang akan menjalaninya, kita tidah boleh memaksakan kehendak kita pada Umar, yang terpenting kita harus mendidik Umar dengan sebaik-baiknya,” harapan Ibu.
            Setiap hari Ayah dan Ibu selalu memberiku kasih sayang, mendidik dan membantuku dalam belajar. Ayah menjadi kepala keluarga yang baik dan Ibu membina rumah tangga yang baik. Dengan binaan kedua orang tuaku kini aku tumbuh menjadi seorang pemuda yang tangguh, pemberani, disiplin, dan pantang menyerah. Aku adalah anak yang cerdas bahkan kini aku menjadi seorang Ustadz dan tauladan yang baik bagi seluruh masyarakat. Aku membela dan menyebarkan ilmu agama ke seluruh pelosok Indonesia. Seperti Kakekku aku sangat kagum dengan sosok Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, ketika kecil aku pernah bertanya kepada Ayah mengapa namaku Raden Hadi Umar Wijaya, ternyata nama itu diambil dari sosok beliau, dan nama itu adalah pemberian dari Kakekku sebelum meninggal. Sejak saat itu aku tau bahwa Kakek meninggal bersamaan dengan hari dimana aku dilahirkan, aku pun tau arti nama serta sebab Kakek memberiku nama tersebut.
“Ternyata Kakekku adalah seseorang yang sangat mengaggumi sosok HOS Tjokroaminoto, karena beliau adalah seorang tokoh pahlawan yang memiliki kepribadian yang baik, beliau adalah sosok guru yang dengan ikhlas mengajarkan murid-muridnya dalam mecari ilmu, baik ilmu duniawi maupun ilmu agama, beliau tidak pernah putus asa dalam kondisi apapun, dan dia menjadi tauladan yang baik untuk murid-muridnya. Sebagian besar murid-murid beliau adalah pengukir sejarah yang bersinar, bahkan ulama-ulama besar dan bapak bangsa adalah murid-murid yang di didik oleh beliau. Kakekku sempat berguru dengan beliau ketika masih muda. Kakekku dapat merebut lahan pertaniannya yang diambil alih oleh salah satu orang belanda karena usul dan saran dari beliau, dengan menanamkan ajaran-ajaran perlawanan, Kakekku melaksanakan setiap usul-usul beliau, hingga lahan pertanian masyarakat terutama milik Kakek yang digunakan untuk mendapatkan penghasilan,” Bathinku dalam hati.
Tiba tiba Ayah datang memasuki kamarku. Aku lantas mengajukan beberapa pertanyaan dan menceritakan mimpiku semalam.
“Umar, apakah kamu sudah makan?” tanya Ayah kepadaku.
“Belum Yah, sebentar lagi aku akan makan,” jawabku.
“Baiklah, Ayah tunggu diluar ya Mar,” kata Ayah.
“Ayah tunggu, aku ingin bertanya dan bercerita,” aku menghentikan langkah Ayah.
“Tentu Mar, Ayah akan mendengarkan cerita dan menjawab pertanyaanmu, lalu apa yang ingin kamu ceritakan Mar?” tanya Ayah.
“Apakah Ayah masih memiliki foto Kakek, aku ingin melihat wajah Kakek?” tanyaku.
“Sebentar akan Ayah Ambilkan,”kata Ayah beranjak keluar kamar, dan mencari foto kakek.
“Bagaimana Yah, apakah masih ada?” aku bertanya dan Ayah tiba tiba masuk.
“Ini adalah foto Kakekmu Mar,” kata Ayah sambil menunjukkan foto Kakek.
“Apakah ini benar-benar Kakek?” tanyaku.
“Iya itu Kakekmu Mar,” jawab Ayah.
“Jadi benar yang ada di mimpiku semalam adalah Kakek,” kataku kebingungan dan kaget.
“Apa maksudmu Mar?” Tanya Ayah.
“Semalam aku bermimpi Yah, aku melihat Kakek menatapku kemudian berjalan menjauh dan akupun mengejarnya hingga Kakek berhenti dan aku mendekatinya, Kakek memegang tangan dan mengelus kepalaku sambil berkata “Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat,” jawabku dengan menceritakan mimpiku semalam.
“Benarkah nak, Ayah bingung dengan arti mimpimu itu, sebelumnya kamu belum pernah bertemu bahkan melihat wajah Kakekmu, baru saja kamu melihat fotonya, namun bagaimana Kakek bisa ada dimimpimu Mar,” kata Ayah dengan bingung.
“Seingatku Yah, apa yang dikatakan Kakek dalam mimpiku semalam adalah kata mutiara yang pernah disampaikan oleh HOS Tjokroaminoto,” kataku.
“Jadi itu adalah sebuah kata yang pernah disampaikan beliau, sepertinya Kakekmu ingin memberikan ilmu, petunjuk, dan nasihat untukmu Mar, Ayah bisa menyimpulkan mimpimu itu Mar, yang pertama Kakekmu memberi sebuah nasihat untukmu, Kakekmu ingin kamu tidak pernah sombong walaupun sekarang kamu telah menjadi seseorang yang cerdas janganlah kamu merasa dirimu lebih baik dari orang lain, karena di hadapan Allah semua memiliki derajat yang sama, kecuali amal ibadah dan kebaikannya. Setinggi-tingginya ilmu yang kamu miliki, itu semua adalah karunia serta rizky yang Allah berikan, Ingatlah Mar di atas langit masih ada langit. Pesan yang kedua, mungkin tanpa sepengetahuan Ayah, kamu sedang memiliki masalah Mar, jikalau ada tolong katakan sejujur-jujurnya pada Ayah Mar,” Ayah memberi sedikit kesimpulan tentang mimpiku.
“Terimakasih Yah, Insyaallah aku akan selalu melaksanakan semua nasihat yang Ayah berikan, aku tidak akan pernah sombong, aku berjanji Yah,” janjiku pada Ayah.
“Lalu apakah kamu memiliki masalah Mar, jujurlah pada Ayah,” paksa Ayah.
“Sebenarnya ada sedikit masalah yang mengganggu pikiranku, masalah itu tentang konflik keagamaan yang terjadi di masyarakat sekitar rumah temanku Yah,” jawabku.
“Jadi itu masalahnya Mar, kamu sekarang telah menjadi seorang Ustadz, menurut pemikiranmu apa jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah itu, karena setiap masalah pasti ada penyelesaiannya,” tanya Ayah kepadaku.
“Itu adalah kewajibanku Yah, aku harus bisa membantu menyelesaikan konflik keagamaan tersebut, aku akan berusaha untuk mencari solusi untuk masalah ini Yah,” jawabku pada Ayah.
“Baiklah nak, pikirkanlah, Ayah akan selalu berdoa untuk keselamatanmu dan agar kamu dapat menyelesaikan semua masalah yang kamu hadapi,” sahut Ayah.
“Seperti Kakek, aku juga sangat kagum dengan sosok HOS Tjokroaminoto, beliau pasti dengan bijak menyelesaikan masalah, mungkin beliaupun pernah menyelesaikan masalah keagamaan, aku akan mengingat-ingat apa yang beliau lakukan ketika mendapat masalah terutama masalah keagamaan,” kataku.
“Benar Umar, bukankah kamu pernah mempelajari dan mencaritahu tentang HOS Tjokroaminoto karena kekagumanmu?” tanya Ayah.
“Iya Yah setelah aku ingat-ingat, aku mendapatkan solusinya, dalam menangani konflik antaragama, jalan terbaik yang bisa aku lakukan adalah mentautkan hati di antara umat beragama, mempererat persahabatan dengan saling mengenal lebih jauh, serta menumbuhkan kembali kesadaran bahwa setiap agama membawa misi kedamaian dan segala macam bentuk ketidakadilan struktural agama harus dihilangkan atau dibuat seminim mungkin,” jawabku.
“Apakah itu tidak sulit untukmu Mar?” tanya Ayah.
“Tidak Ayah karena sesulit apapun suatu hal, apabila dijalani dengan ikhlas pasti akan terasa lebih mudah,” jawabku.
“Lalu apa yang ingin kamu lakukan, apa kamu ingin menumbuhkan kesadaran setiap orang dalam keagamaan, itu tidak mungkin Mar, ketika mereka tidak menyetujui apa yang kamu katakan, kamu bisa menambah masalah diantara mereka Mar, dan pastinya kamu akan mendapatkan permasalah baru,” kata Ayah.
“Insyaallah itu tidak akan terjadi padaku Yah, aku akan berusaha sebaik-baiknya demi kerukunan antar umat beragama, aku akan mengadakan pertemuan dan negosiasi bersama dengan mereka yang terkait pada konflik keagamaan itu,” jawabku.
“Semoga semua berjalan dengan lancar, lalu kapan kamu akan mengadakan pertemuan tersebut Mar?” tanya Ayah.
“Aku tidak akan menunda perbuatan yang baik, secepatnya aku akan menginformasikan kepada mereka semua agar menghadiri pertemuan dan negosiasi tersebut.” jawabku     
“Hati-hati dengan semua yang kamu ucapkan Mar, jangan sampai kamu mengucapkan sesuatu yang membuat mereka tersinggung dan sakit hati,” saran Ayah.
“Terimakasih atas saran yang Ayah berikan, Insyaallah aku akan menyaring semua kata kata yang akan aku keluarkan, aku tidak ingin membuat seseorang merasa tersinggung dan sakit hati walau hanya sekali,” ucapan terimakasihku pada Ayah.
“Aku telah putuskan Ayah, bahwa setelah makan nanti aku akan segera menginformasikan hal tersebut, dan akan mengadakan pertemuan itu besok pagi,” keputusanku.
“Ayah akan selalu mendukungmu Mar, baiklah ayo sekarang kita makan, Ibumu telah menunggu dan menyiapkan makan untuk kita,” Sahut Ayah.
Aku dan Ayah segera menuju ke ruang makan dan disana terlihat Ibu sedang menata meja dan menyiapkan makanan, Ayah memimpin doa kemudian kami menyantap makanan yang lezat itu, kami bersyukur akan semua rizky yang Allah berikan kepada keluarga kami. Setelah makan aku berpamitan pada kedua orang tuaku untuk pergi menginformasikan bahwa pertemuan dan negosiasi tentang konflik keagamaan akan dilaksanakan besok pagi.
Pagi telah tiba, kemarin aku telah menginformasikan kepada semua masyarakat yang terkait konflik keagamaan tersebut. Di pagi hari yang cerah ini aku berpamitan dan meminta restu pada orang tuaku. 
“Ayah, Ibu, Umar pamit untuk menghadiri pertemuan dan negosiasi masalah keagamaan, Umar meminta doa restu Ayah dan Ibu agar umar secepatnya bisa menyelesaikan masalah ini, doa restu Ayah dan Ibu pasti akan menjadi sebuah hal yang membuat Umar semakin bersemangat untuk menyelesaikan masalah ini, doa itu akan sangat bermanfaat bagi Umar,” kata pamitku pada Ayah dan Ibu.
“Ayah dan Ibu merestuimu Mar, doa kami akan mengiringi setiap langkahmu, hati hati di jalan Mar semoga kamu selamat hingga tujuan dan dimudahkan dalam menyelesaikan masalah ini,” doa Ayah dan Ibu kepadaku.
“Terimakasih Ayah Ibu, semoga doa restu Ayah dan Ibu dikabulkan oleh Allah SWT,” Ucapan terimakasihku.
Aku segera pergi menuju tempat pertemuan yang telah ditentukan, sesampainnya disana terlihat semua masyarakat menghadiri pertemuan, mereka terlihat saling menghujat antara agama yang satu dengan agama lainnya, namun Alhamdullilah aku bisa menenangkan mereka, rapat dimulai dan aku menyampaikan keputusan yang telah aku pikirkan semalam, sempat ada beberapa golongan yang tidak menyetujui apa yang aku katakan, aku memberi penjelasan kepada mereka dan sedikit bernegosiasi hingga mereka semua menyetujui apa yang aku katakan, Akhirnya masalah inipun terselesaikan, mereka berjanji bahwa konflik seperti ini tidak akan terjadi lagi karena ini hanyalah sebuah kesalahpahaman yang seharusnya tidak dibesarkan, mereka juga berjanji akan menciptakan kedamaian dan kerukunan antar umat beragama. Aku sangat bersyukur pada Allah SWT, dan aku berterimakasih atas doa restu Ayah dan Ibu ketika aku sampai dirumah.