Pertemuan Dua Sahabat di Amerika Serikat
Karya : Laila Nur Auliani
Sumber Gambar : https://merrylah.files.wordpress.com/2008/11/us-ma-cambridge-harvard-university-red-brick-building-sunshine-grass-lawn-students-1-ajhd.jpg
Di Monumen
Lincoln, Amerika Serikat sangatlah ramai, banyak masyarakat disana yang
menghabiskan malamnya untuk menonton kembang api, aku ikut bergabung di tengah
keramaian tersebut. Disana memanglah ramai dan penuh kebahagiaan, namun aku
merasa ada yang kurang dengan suasana ini, aku mengenang kebahagiaan maupun
kebersamaan dengan keluargaku di Indonesia, tapi terpaksa aku harus
meninggalkan mereka, karena mencari ilmu di dunia adalah cita-citaku sejak
kecil. Namun aku merasa bahwa bukan hanya rindu pada keluargaku, namun ada
seseorang yang mengganjal hatiku, aku merindukannya namu aku tidak tau pasti siapa
yang sangat aku rindukan itu. Setelah menonton kembang api, aku kembali ke
Hotel Commonwealth Court . Sesampainya di Hotel tersebut, aku membuka cendela,
dan duduk di sofa sambil mengerjakan tugas. Ketika belajar aku sempat melihat
langit, saat ini langit dipenuhi oleh bintang-bintang, aku melihat 2 bintang
yang bersinar sangat terang daripada bintang bintang lainnya. Bintang-bintang
tersebut membuatku mengingat masa laluku, pancaran sinar kedua bintang tersebut
mengingatkan pada sahabatku Suci.
“ Kedua
bintang itu sangatlah indah seperti kisah persahabatanku dengan Suci yang telah
berlangsung selama 12 tahun, bintang itu telah menjawab pertanyaanku, ternyata
seseorang yang mengganjal dihatiku adalah sahabatku yang selalu ada dalam suka
maupun duka dan menghiasi hari-hariku, namun saat ini aku telah berpisah
dengannya, berat rasanya perberpisahan ini,” batinku dalam hati.
Aku mengingat
semua masa laluku dengan sahabatku Suci, kami tandai awal perhabatan kita di
sebuah pohon yang besar, di batang pohon itu kami tulis, “ Laila dan Suci,
bersahabat tuk selamanya, 17 Januari 2009.” Aku mengingat bagaimana kebersamaan
kita, kami saling bercerita, tertawa, bersenang-senang, bermain,
berjalan-jalan, membuat kerajinan, dan mengelilingi Indonesia, untuk
memperdalam budaya dan mencari tahu lebih dalam kekayaan maupun keindahan alam
tanah kelahiran kita, Indonesia.
“Oh Iya...aku
masih menyimpan foto-foto persahabatanku dengan Suci ketika berkeliling
Indonesia, namun aku lupa dimana aku menyimpan foto itu?” Kataku, sambil
mencari album foto di lemari.
Ketika aku
sedang mencari album foto persahabatanku itu, tiba-tiba temanku datang dan
mengetuk pintu.
“Tok...tok...tok...”
ada seseorang yang mengetuk pintu.
“Iya sebentar,
siapa, ada perlu apa?” tanyaku.
“Laila, ini
saya Shirley, saya ingin memintamu untuk membantu saya belajar, saya mengalami
kesulitan,” jawab temanku Shirley.
“Silahkan
masuk Shirley, pintu tidak dikunci,” tawarku.
“Baiklah
Laila,” jawabnya dengan membuka pintu.
“Kamu sedang
apa Laila?” tanya Shirley.
“Aha...akhirnya
ketemu juga, ini Shirley yang sedang aku cari, ini adalah fotoku bersama
sahabatku Suci, ketika kami sedang mengelilingi Indonesia,” jawabku dengan
senang.
“Apa! fotomu
ketika mengelilingi Indonesia, coba saya ingin melihatnya, bagaimana negara
kelahiranmu itu, aku sangat penasaran,” Shirley terkejut dan ingin melihat
fotoku.
“Ini kalau
kamu memang benar-benar penasaran dengan Indonesia,” kataku sambil memberikan
foto-fotoku.
“Jadi ini
Indonesia, indah sekali, bahkan pemandangannya sangat menakjubkan, di mana saja
ini terutama kelima air terjun ini, coba katakan tempatmu berfoto dengan
sahabatmu itu?” tanya Shirley sambil menunjuk fotoku dan Suci di bawah Air
Terjun.
“Jangan
berlebihan, karena selain Indonesia masih ada negara lain yang lebih indah,
walaupun dalam diriku aku hanya mencintai Indonesia, 5 foto air terjun ini
adalah contoh air tenjun yang indah di Indonesia yang pertama adalah air terjun
2 warna dan yang kedua adalah air terjun mursala di Sumatra Utara, yang ketiga
adalah air terjun Sendang Gile di Lombok, yang keempat adalah air terjun Benang
Kelambu di NTB, yang kelima ini adalah air terjun Sipiso-piso, sedangkan
foto-fotoku lainnya itu adalah pemandangan-pemandangan yang tersebar di
Indonesia,” kataku sambil menunjuk foto.
“Jadi kamu
suka mengelilingi Indonesia Laila? Aku ingin wisata di Indonesia, Laila
kapan-kapan maukah kamu mengajakku berkeliling Indonesia?” tanya Shirley.
“Baiklah
kapan-kapan aku akan mengajakmu berkeliling di Indonesia, ohh iya...bukannya
kamu tadi ingin kubantu dalam belajar Shirley?” tanyaku.
“Maaf...maaf...aku
jadi lupa akan hal itu, tapi sepertinya kamu sedang sedih Laila?” tanya Shirley
kepadaku.
“Aku hanya
sedih karena mengingat kenanganku bersama dengan sahabatku di masa lalu,”
jawabku.
“Laila coba
ceritakan padaku kisah persahabatanmu itu?” tanya Shirley lagi.
“Besok saja
aku mencaritakan kisah persahabatanku itu, lebih baik kita mengerjakan tugas
terlebih dahulu,” paksaku.
“Baiklah, aku
akan menunggu ceritamu,” kata Shirley kepadaku.
Aku dan
Shirley mulai mengerjakan tugas bersama-sama, hingga akhirnya tugas kami
selesai dan Shirley kembali pulang kerumahnya, setelah itupun aku segera tidur.
“Kring...kring...kring,” suara
alarmku berdering, aku mematikannya, karena hari ini adalah hari libur,
rencananya aku akan berkeliling Amerika Serikat, memang setiap hari Minggu aku
selalu menggunakan waktuku untuk berkeliling Amerika Serikat, aku ingin lebih
dalam memahami seluk beluk negara ini.
“Rasanya
kurang seru bila tidak mengundang teman-teman untuk iku berkeliling Amerika
Serikat, aku ingin mengundang Shirley, Louella, Claudette, Millicent, dan
Gabrielle,” batinku.
Aku
menghubungi kelima temanku yaitu Shirley, Louella, Claudette, Millicent, dan Gabrielle untuk menawarkan mereka berkeliling.
Teman-teman setuju atas tawaranku, kecuali Claudette karena ia ingin ke luar
kota. Kami sepakat untuk berkumpul terlebih dahulu di Washington Monument.
Setelah bersiap-siap aku segera menuju ke Washington Monument, dan sesampainya
disana kami berkumpul dan memulai perjalanan di Washington. Indahnya pemandangan
disana, tumbuhan tertata rapi, airnya berwarna biru serta jernih, dan kami
berfoto di bawah langit biru yang membuat pemandangan semakin menakjubkan.
Ketika aku memegang kamera dan memfoto Louella dan Millicent, aku tidak fokus
memfoto kedua sahabat itu karena justru aku membayangkan bahwa mereka adalah
aku dan Sahabatku Suci yang sedang berfoto di bawah Monumen Nasional,
Indonesia, padahal Louella dan Millicent sedang berpose dengan anggunnya namun
aku tidak segera memencet tombol potret.
“Laila.....Ada
apa denganmu, mengapa kamu melamun, apa yang kau bayangkan?” tanya Louella
mendekatiku sambil mengibas-kibaskan tangan di depan wajahku.
“Apa...apa...apa...ada
apa,” aku terkejut.
“Apa yang kamu
pikirkan Laila,” tanya Shirley kepadaku.
“Iya Laila apa
yang kamu bayangkan,” tanya Gabrielle kepadaku
“Maafkan aku
aku telah mebuatmu terkejut Laila,” permintaan maaf Louella kepadaku.
“Aku tidak
apa-apa, aku hanya iri dengan persahabatanmu Louella dengan Millicent, aku
teringat dengan sahabatku yang ada di Indonesia, kisah-kisah yang kalian berdua
alami sama seperti apa yang biasa aku lakukan dengan Suci, sahabatku, ketika
aku melihat kebersamaan persahabatan kalian berdua aku justru melihat diriku
sendiri dan sahabatku di Indonesia, 5 tahun kami tidak bertemu, walaupun kami
masih berhubungan melalui media sosial, terakhir bertemu sejak aku lulus dari
SMP, sejak malam aku selalu memikirkannya,” jawabku.
“Bersabarlah
Laila, kau membuatku sedih, sebenarnya di Singapura akupun memiliki 2 sahabat
namanya Rachel dan Mitchie Ling, aku terpaksa untuk mengakhiri persahabatan
kami sesudah aku mendapatkan informasi
beasiswa, sebenarnya informasi itu ada 1 tahun sebelum aku dikirim ke Amerika,
aku mengakhiri persahabatanku tanpa mengatakan alasanku ini, sebenarnya aku
masih menyayangi mereka tapi aku terpaksa melakukan ini untuk menghindari
perpisahan yang menyakitkan,” cerita Gabrielle.
“Jadi kalian
sedih karena sahabat, kalau aku sedih karena harus berpisah dengan orang tua,”
kata Shirley.
“Itu
pasti...Shirley, Shirley, kamu aneh aneh saja,” bentakku, Louella, Millicent,
dan Gabrielle secara bersamaan.
“Hehehe...maaf-maaf,
ya udah deh sebagai permintaan maafku aku traktir kalian makan di Old Ebbitt
Grill,” permintaan maaf Shirley kepadaku dan teman-teman.
“Benarkah
Shirley, gitu dong, perut kita kan sudah kelaparan sejak tadi, berkeliling Washington
itukan butuh banyak tenaga,” kataku.
Setelah kami
makan kami melanjutkan berkeliling ke berbagai monumen sejarah, dan berfoto
foto sambil bersenang-senang terutama di bawah Patung Liberty. Karena mulai
sore, kami mengakhiri perjalanan pada hari ini, agar sisa waktu hari ini dapat
kami gunakan untuk mengerjakan tugas, untuk itu kami beristirahat sebentar
kemudian pulang kerumah masing-masing. Sesampainya aku di rumah aku segera
menyelesaikan tugas dan laporan, malamnya aku ingin tidur, namun dalam hatiku
masih ada bayang-bayang sahabatku Suci sehingga rasanya sulit memejamkan mata,
hari semakin malam karena aku sedih dan tidak bisa tidur aku mengambil air
wudhu, air wudhu itu menenangkan hatiku sehingga sekarang aku dapat tidur.
“Kring...kring...kring,” suara
alarmku berdering, aku terbangun dari tidurku, kemudian aku mengerjakan Sholat
sunah tahajud.
“Ya Allah, aku
sangat merindukan orang tuaku berilah kesehatan dan keselamatan untuk mereka,
selain mereka aku memohon pada-Mu ya Allah, aku sangat merindukan sahabatku
Suci, aku ingin bersamanya kembali
seperti dulu, membina kebersamaan dan pertemanan dengan baik, aku mohon
pertemukanlah hamba dengannya suatu saat nanti Ya Allah,” doaku ketika selesai
sholat tahajud.
Setelah sholat
aku mebuka buku-bukuku dan mengulangi pelajaran yang diajarkan minggu lalu,
kemudian aku mandi dan bersiap-siap ke Harvard University. Setelah siap, aku
segera menuju University, sesampainya disana kami semua memulai belajar.
Akhirnya pelajaran telah usai, semua mahasiswa meninggalkan ruangan, sebelum
pulang aku singgah terlebih dahulu untuk beristirahat di sebuah kursi bawah
pohon yang rindang di taman University yang seju dan indah itu. Disana aku
membayangkan sedang bercerita dengan Sahabatku Suci dibawah pohon beralaskan
rumput rumput yang hijau dan duduk dengan kebahagiaan, ketika ku terbangun dari
bayang bayangku itu ternyata kenyataannya aku hanya duduk di tempat yang sepi
itu karena sebagian dari teman teman telah pulang lebih dahulu. Aku sangat
sangat kesepian aku menginginkan sosok seorang sahabat, tiba tiba ada seseorang
yang menggunakan kameranya untuk memfoto taman ini.
“Ckrik...ckrik...ckrik,”
suara kamera orang itu dengan melihat suasana taman itu, dia berkata “Indah
sekali taman ini, aku senang mendapat beasiswa di University ini, rasanya aku
ingin segera masuk.”
“Sepertinya
dia mahasiswa baru di sini, namun dari mata dan penampilannya sepertinya dia
masyarakat Indonesia dan aku merasa wajahnya tidak asing, mungkin dia mendapat
beasiswa sepertiku,” kataku.
Tanpa sengaja
dia mengarahkan kameranya ke arahku kemudian memfotoku dan pemandangan taman
dibelakangku.
“Ckrik...ckrik...ckrikk,”
tiba tiba dia sadar bahwa dia telah memfoto seseorang”Mbak maaf...maaf, saya
tidak sengaja memfoto mbak,” maafnya.
“Kamu! Suci
kan bagaimana kamu bisa ada di sini?” tanyaku terkejut.
“Laila,
akhirnya kita bisa bertemu, aku rindu denganmu, aku telah berkeliling Indonesia
tanpamu rasanya sangat menyedihkan, aku disini karena mendapat tugas
mempelajari berbagai budaya di dunia, yang pertama dan kedua aku ditugaskan
untuk mencari tahu kebudayaan dan keindahan-keindahan di Prancis, dan
Australia, lalu tujuanku yang terakhir adalah mencari tahu hal tersebut di
Amerika Serikat ini, dan disini aku mendapat beasiswa untuk belajar Harvard
Graduate School of Design, karena selain budaya aku ditugaskan untuk
mempelajari seni desain di University ini,” Jawab Suci dengan rasa senang.
“Aku turut
senang dengan kehadiranmu disini, akhirnya doaku selama ini dikabulkan oleh
Allah, tak hanya kamu yang merindukanku tapi akupun sangat merindukanmu, setiap
hari yang aku pikirkan hanyalah kenangan kenangan persahabatan kita,” kataku.
Aku dan
sahabatku Suci berpelukan dengan erat, akupun terharu dan meneteskan air mata,
bahkan Sucipun ikut menangis hingga membasahi pundakku, setelah itu kami
menghapus air mata kami, kemudian aku mengantarkan Suci mengajukan beasiswa.
Usai Suci mengajukan beasiswa kami pun beristirahat sebentar dan mulai
berkeliling Amerika Serikat sambil bercerita.
“Laila, maukah
kamu membantuku mencari foto foto di berbagai daerah dan bermacam macam
pemandangan di Amerika ini, untuk menyelesaikan tugas tugasku?” tanya Suci.
“Tentu aku
mau, aku sangat senang dapat melihat berbagai pemandangan yang indah, rasanya
seperti apa yang kita lakukan di Indonesia dulu, kita berfoto di berbagai
keindahan alam semesta ini,” jawabku dengan sangat gembira.
“ Terimakasih Laila,
untuk tujuan kita yang pertama kita aku pergi ke embah grand canyon, telang
kita tidak mendaki, kita hanya berfoto dibawah,” ajak Suci.
“Baiklah, mari
kita ke lembah grand canyon,” kataku.
Aku dan Suci
segera pergi ke lembah grand canyon, sesampainya disana kamiberfoto foto.
“Cantiknya,
lembah itu warnanya orange, baru pertama kali aku melihat secara langsung
lembah ini,” puji Suci tehadap lembah itu.
“Akupun takjub
sepertimu,” sahutku.
“ Tujuan kita
kedua adalah ke air terjun Tumalo, aku benar benar penasaran dengan air terjun
itu,” ajak Suci.
“ Iya akupun
ingin melihat air terjun itu secara langsung,” jawabku.
Kami mulai
berangkat menuju air terjun tumalo itu, sesampainya disana kami berfoto, di
bawah keindahan air terjun itu.
“Suci, indah
sekali air terjun ini, aku tidak menyesal datang kesini, bahkan rasanya aku
ingin setiap hari bermain air di sini,” kataku dengan takjub.
“Iya, indah
sekali Laila, bahkan keindahannya melebihi dari foto yang aku dapatkan melalui
internet, airnya jenih, dan bunga bunga ini menghiasi tebing air tenjun,” sahut
Suci.
Kami berfoto
di Air terjun ini, banyak foto yang kami dapatkan.
“Untuk
mengakhiri perjalanan kita hari ini, tujuan kita yang ketiga adalah Perbukitan Palouse disana kita bisa melihat
lahan hijau yang sangat luas, dan angin yang segar waaupun sedikit panas,” ajak
Suci.
“Sebenarnya
aku telah merasa lelah, namun akupun ingin menemanimu dan merasakan kindahan
alam ini,” jawabku.
“kalau memang
kau sudah lelah, lebih baik kita akhiri perjalanan hari ini,” kata Suci.
“Lebih baik
kita teruskan, tohh Perbukitan Palouse
tidak begitu jauh,” kataku.
Kami segera
meneruskan perjalanan ke tujuan kita yang terakhir di Perbukitan Palouse,
sesampainya disana kami menggelar tikar dan berfoto disana terlihat memang
panas namun kehijauannya terbentang sangat luas.
“Sejuk sekali,
namun kesejukan ini terkurangi oleh pasasnya matahari,” kataku.
“Iya kamu
benar laila, lahan hijau yang membentang ini memang indah, tapi sepertinya
jarang sekali ada rumah di daerah ini, lihat itu terlihat hanya ada sebuah
rumah jauh di depan sana,” kata Suci sambil menunjuk sebuah rumah itu dengan
jarinya.
Setelah lama
berbincang bincang di bukit itu mengenai kenangan-kenangan kita di masa lalu
dan pengalaman-pengalaman yang kami dapatkan semenjak kami berpisah. Setelah
berbincang kamipun bergegas pulang, ketika di tengah perjalanan kami lapar,
sehingga kami harus singgah terlebih dahulu di sebuah restaurant.
“Kamu lapar
yaaa, aku juga lapar bagaimana bila kita makan dahulu sebelum pulang?” tanyaku.
“Sebenarnya
aku memang lapar, tapi aku tidak suka dengan masakan di sini,” jawabnya.
“Jangan
khawatir awalnya aku juga tidak suka makanan di sini, jadi pertama kali disini,
setiap harinya aku makan di Indonesia Restaurant, disana ada gado-gado,nasi
padang, nasi goreng, dll,” kataku.
“Benarkah, ya
sudah kalau begitu aku ingin makan di restaurant itu,” kata Suci terkejut.
Sesampainya
disana kami berbincang-bincang.
“Laila makanan
disini enak uga, rasanya seperti makanan asli Indonesia,” puji Suci.
“Memang lezat,
tapi pemilik restaurant ini benar-benar orang Amerika lho, ohh iya kamu tinggal
dimana saat ini?”tanyaku.
“Aku belum
sempat mencari apartement atau hotel di sini,” jawab Suci.
“Ya sudah
setelah makan, kamu sementara menginap di Hotel Commonwealth Court, tempatku
tinggal,” tawarku.
“Terimakasih
Laila, kamu memang sahabat terbaikku,” ucapan terimakasih Suci kepadaku.
Setelah
selesai makan, kami pulang menuju ke tempat tinggalku di Hotel Commonwealth
Court, Suci ikut bersamaku untuk menginap sementara, sesampainya disana kami
segera tidur.
“Selamat tidur
Laila, kita akhiri hari kita ini, kita teruskan perjalanan kita mengelilingi
Amerika Serikat besok,” kata Suci.
“Malam
Sahabatku, kemanapun kita pergi aku akan selalu bahagia bersamamu,” kataku.
Aku dan
Sucipun tertidur, kami mengakhiri hari ini dengan kebahagiaan, hari hari
selanjutnya kami akan memulai persahabatan kita di Amerika ini, kami akan
selalu menjadi sahabat yang baik dan saling menyemangati satu dengan yang lain.

